BORNEONEWS, Palangka Raya - Selama Maret 2019, pengaruh komponen harga bergejolak (volatile foods) cukup kuat dalam mendorong penurunan indeks harga di Sampit 0,18% dan Palangka Raya 0,03%.
Komponen inflasi inti (core inflation) memengaruhi menurunnya indeks harga di Palangka Raya 0,05%, namun mendorong meningkatnya indeks harga di Sampit 0,09%.
Sementara itu, komponen harga diatur pemerintah (administered prices), memiliki daya ungkit terhadap kenaikan indeks harga baik di Palangka Raya 0,05% maupun di Sampit 0,08%.
Tarif angkutan udara masih menjadi komoditas utama pendorong potensi terjadinya inflasi di Palangka Raya 0,06% dan Sampit 0,13%.
Potensi yang sama juga terjadi pada komoditas bawang putih di Palangka Raya 0,02% dan Sampit 0,03%.
--page
"Andil beras terhadap potensi terjadinya inflasi di Palangka Raya juga cukup berarti 0,02 persen. Sebaliknya, komoditas daging ayam ras memiliki andil lebih besar terhadap terjadinya deflasi di Sampit 0,16 persen dibandingkan di Palangka Raya 0,08 persen," ucap Kepala BPS Kalteng, Yomin Tofri, Selasa (2/4/2019).
Selain itu, komoditas telur ayam ras juga memberikan andil yang sama terhadap terjadinya deflasi di kedua kota.
Komoditas lain yang turut berkontribusi terhadap terjadinya deflasi di Palangka Raya, berasal dari kelompok beberapa jenis ikan air tawar.
Di Sampit, menurunnya tarif listrik selama Maret 2019, turut memberikan andil terjadinya deflasi yaitu sebesar 0,03 persen. (GAZALI/B-2)








