BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Penurunan harga sawit yang masih berlanjut hingga saat ini, menjadi salah satu pertimbangan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) untuk melakukan ekspansi.
"Kami lebih berhati-hati dan cenderung menahan ekspansi tahun ini. Sebab, dengan turunnya harga sawit, turut mempengaruhi arus kas perseroan," kata Direktur Keuangan Austindo Nusantara Jaya, Lucas Kurniawan, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta medio pekan ini.
Dengan kondisi keuangan yang terbatas, menurut Lucas, maka ekspansi tahun ini otomatis hanya akan diprioritaskan untuk beberapa proyek startegis yang sudah berjalan. Salah satunya, pabrik kelapa sawit perusahaan di Papua Barat yang sudah mulai dibangun sejak tahun lalu.
"Ini yang harus kami selesaikan, terutama untuk tahapan pertama sebesar 1x45 ton," papar dia.
Pembangunan pabrik CPO di Papua Barat hingga saat ini telah selesai sebesar 65,6% pada akhir 2018. Pabrik CPO yang dibangun dengan investasi sekitar US$23 juta atau setara Rp327 miliar ini, akan memiliki dua lini produksi dengan masing-masing kapasitas produksi 45 ton per jam.
--page
Adapun untuk lini produksi pertama, ditargetkan bisa mulai commissioning pada kuartal III 2019.
Meskipun kondisi industri sawit masih cukup menantang, menurut Lucas, pihaknya tidak menutup kemungkinan melakukan ekspansi.
"Kami selalu melihat potensi-potensi untuk ekspansi, apakah itu organik atau non organik," ujarnya.
Untuk ekspansi organik, Austindo sudah memiliki dua segmen bisnis perkebunan di luar sawit, yaitu edamame dan sagu. Untuk segmen sagu, perusahan akan meningkatkan volume produksinya.
"Target untuk sagu, kami harapkan dalam tahun ini bisa memproduksi 500 ton per bulan. Selain itu masih ada ruang untuk peningkatan kapasitas pasangnya sebesar 1.500 ton per bulan" tutur Lucas.
--page
Sedangkan untuk edamame, perusahaan juga berencana menyelesaikan proses pembangunan fasilitas pemrosesan pabrik edamame di Jember, Jawa Timur, tahun ini. Pabrik pengolahan edamame di Jember menelan investasi sekitar US$6,4 juta atau sekitar Rp91,2 miliar. (NEDELYA RAMADHANI/m)








