BORNEONEWS, Sampit - Wakil Ketua DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Parimus menilai, pembangunan utara Kotim masih sangat tertinggal. Padahal sumber daya alam di sana sebagian besar dikeruk sudah untuk kegiatan investasi perkebunan maupun pertambangan.
Ketinggalan itu kata dia dari sejumlah bidang, mulai dari infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan akses layanan publik hingga listrik.
Parimus mengatakan , ketertinggalan itu tidak bisa dipersalahkan pemerintahan saat ini, namun memang sejak awal dalam pembangunan daerah pelosok banyak diabaikan, selain itu juga dengan kondisi geografis yang luas menjadi penyebabnya.
"Daerah utara Kotim itu adalah salah satu lumbung sumber daya alam Kotim. Ketimpangan pembangunan sangat jelas terlihat di sana," kata Parimus, Selasa (9/4/2019).
Lanjut Parimus ketertinggalan itu karena ada kurang perhatian dari sisi pembangunan, alokasi pemerintah daerah untuk anggarannya sangat minim, sementara daerah itu luas hampir sebagian besar wilayah Kotim itu di daerah utara.
--page
Sumber daya alam di wilayah utara saat ini di keruk, sementara masyarakat setempat tidak menikmatinya padahal seharusnya kekayaan itu dipergunakan untuk kesejahteraan masyarakat di sana namun demikian semua itu berbanding terbalik
Parimus mengakui hasil dari sektor sumber daya alam memang tidak masuk dalam pendapatan daerah. Semuanya baik pajak dan retribusi masuk ke pemerintah pusat.
Masalah ketidakadilan soal itu selalu terjadi, karena memang pendapatan dari sektor perusahaan perkebunan tidak masuk dalam daerah selama ini.
"Semuanya masuk ke pemerintah pusat. Sayangnya program dari pemerintah pusat sedikit yang berpihak kepada masyarakat di sekitar perkebunan," tandasnya. (NACO/B-5)








