JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Meskipun kinerja belum positif pada 2018, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) mempertimbangkan untuk meningkatkan volume penjualan pada tahun ini dari bisnis kelapa sawit dan panel kayu.

"Prospek industri CPO diperkirakan membaik dengan kebijakan mandatori biodiesel B20 September tahun lalu dan juga rencana penerapan B30 tahun ini. Pada tahun ini, memang ada masalah dengan kampanye negatif produk sawit dari negara-negara Uni Eropa, tetapi diharapkan tidak akan mempengaruhi permintaan sawit," kata Corporate Communications Department Head PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), Supriyadi Jamhir, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, baru-baru ini.

Saat ini perusahaan belum berencana menyasar pasar ekspor, karena selama ini masih dijual di pasar dalam negeri. Pada 2018 lalu, perseroan membukukan penjualan sebesar Rp4,8 triliun, turun 8% dibandingkan raihan 2017. 

Penurunan itu terutama disebabkan oleh turunnya harga rata-rata minyak sawit mentah (CPO) perseroan dari Rp8,1 juta per ton pada 2017 menjadi sekitar Rp7,2 juta per ton pada tahun lalu.

Dengan penurunan penjualan perolehan laba DSNG pada tahun lalu tercatat sebesar Rp427,2 miliar, atau turun sekitar 26% dibandingkan 2017, maka margin laba tercatat sebesar 9%. 

--page

Meski kinerja laporan keuangan menurun, dari data internal perusahaan, volume penjualan CPO DSNG tahun lalu bertahan pada level 455.000 ton. Kondisi itu disebabkan oleh adanya kongesti pada kapal pengangkut CPO sejak pertengahan 2018, sehingga menyebabkan terjadinya keterlambatan kapal yang akhirnya menghambat penjualan.

"Volume penjualan diharapkan meningkat di atas 20%, karena adanya penambahan produksi dari PT Bima Palma Nugraha (BPN) dan Bima Agri Sawit (BAS) yang diakuisisi Desember 2018 lalu," papar Supriyadi. (NEDELYA RAMADHANI/m)