SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Proses pemilihan umum sudah berjalan, namum tidak lepas dari sejumlah persoalan. Seperti yang disampaikan tokoh adat di Kotim Hardi P Hadi, Minggu (28/4/2019).

Menurut dia dalam sistem demokrasi yang dipraktekkan di negara saat ini bisa melahirkan pemimpin korup dan tidak amanah karena banyak indikasi permainan meski oleh Bawaslu Kabupaten Kotim ditegaskan beberapa waktu lalu itu tidak ada temuan.

"Bayangkan ada caleg yang tidak dikenal sama sekali dikonstituennya bisa terpilih. Sangat miris, semuanya tentu, siapa yang punya uang," kata dia.

Dugaan praktik itu kata dia tentu di sisi lainnya berdampak pada kurangnya angka gollput. 

"Tanpa peran dan kontribusi para caleg yang menghamburkan uang untuk memilih, saya yakni tidak sampai 50 persen partisipasi itu. Bahkan banyak yang pesimis beberapa waktu lalu dan masyarakat akan golput, namun itu tidak," ucapnya.

--page

Tokoh masyarakat ini khawatir bagaimana kualitas demokrasi, kapasitas, kapabilitas pemimpin, caleg yang duduk yang notabenenya adalah wakil rakyat sangat diragukan legitimasinya, buah hasil dari demokrasi yang cedera.


"Kita sangat malu dengan sistem demokrasi saat ini, penerapan demokrasi yang tidak sejalan antara teori dengan praktek. Praktiknya bagus bahkan diakui dunia bahwa Indonesia adalah negara demokrasi terbesar di dunia. Namun prakteknya tidak demikian," tegasnya.

"Untuk kalian yang bekerja siang malam menghitung jumlah suara dengan teliti agar tidak terjadi salah hitung, harusnya kalian merasa terwakili dengan teriakan-teriakan kami. Apa artinya kerja keras kalian menghitung jumlah suara siang malam itu jika pada akhirnya hitungan kalian tidak dipakai," tukasnya.

Namun demikian, kata dia, kepada para pejuang demokrasi yang bahkan telah berkorban nyawa. Sungguh, itu bukan tertuju untuk mereka. 


"Di sini kami justru ingin menyampaikan rasa terima kasih tak terhingga untuk perjuangan dan pengorbanan kalian. Jikalah kalian asal-asalan saja menghitung jumlah suara kami, tentunya takkan menghabiskan waktu lama dan takkan menimbulkan banyak korban," tandasnya.

--page

Dari itu kata dia pemilu langsung dan serentak sangat tidak cocok dan perlu dievaluasi agar tidak menimbulkan banyak persoalan.(NACO/m)