BORNEONEWS, Sampit - Pemilihan anggota legislatif (pileg) di Kabupaten Kotawaringin Timur sudah berlalu.
Dari hasil pleno kabupaten terlihat jelas kondisi tragis, terutama bagi kalangan birokrat yang tidak mampu bersaing hingga tumbangnya Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di bawah kepemimpinan Taufiq Mukri.
Bahkan mereka bisa dibilang tersalib oleh Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Perolehan suara kalangan birokrat ini tidak mampu banyak bersaing dengan caleg lain, bahkan inkumben sekalipun.
Padahal sebelumnya mereka diprediksi mampu banyak mendulang suara. Tidak hanya itu, mantan birokrat ini dipinang oleh sejumlah partai besar di Kotim.
Pengamat hukum dan politik di Kotim, Bambang Nugroho mengatakan Pileg 2019 ini membuktikan kuatnya persaingan antar politisi. Bahkan strategi dan finansial faktor penentu.
--page
"Elektabilitas itu adalah nomor terakhir kalau kita lihat jika dibandingkan dengan kekuatan finansial dan strategi. Buktinya kalangan birokrat ini secara elektabilitas saya rasa tidak diragukan lagi, namum tumbang, begitu juga inkumben," ucapnya, Sabtu, 4 Mei 2019.
Seperti Burhanudin mantan Kepala Bappeda Kotim. Caleg Partai Gerindra ini masih belum mampu mengalahkan caleg inkumben dari partai itu Sanidin yang meraup 1.777 suara, sementara Burhanudin hanya mampu meraup 1.033 suara di Dapil II Kotim.
Begitu juga dengan Arifin Mastur mantan Kepala Akbid Muhammadiyah Kotim atau Sekretaris Dinkes Kotim hanya mampu meraup 283 suara. Dia masih kalah bersaing dengan inkumben Ary Dewat di Dapil IV yang meraup 1.720 suara.
Kusdinata mantan Kepala BPKAD Kotim caleg Demokrat ini juga kalah bersaing dengan pendatang baru Linda yang mampu meraup 648 suara di Dapil III, sementara Kusdinata hanya meraup 314 suara.
Nasdem juga harus kehilangan kursi di Dapil IV setelah caleg inkumben Syahbana bersaing di Dapil IV. Mereka memasang Sugian Noor mantan Kadis Tenaga Kerja dan Transmigrasi, namum Nasdem hanya meraup 943 suara saja.
--page
Mudjiono mantan Kepala Disperindagsar juga kalah bersaing di Dapil I. Dia belum mampu menyangi caleg inkumen Sutik dari Gerindra. Mudjiono hanya mampu mendulang 397 suara terlampau jauh dati Sutik yang mampu meraih 1.867 suara.
Suwardi mantan Camat Mentaya Hulu pun demikian. Dia hanya mampu meraup 149 suara tertinghal jauh dari Anang Kapeliyus rekannya dk Demokrat yang meraup 1.817 suara di Dapil V.
Samsudin Mulano mantan Camat Parenggean hanya mampu meraup 48 suara saja tertinggal oleh Handoyo J Wibowo yang meraup 1.580 suara di Demokrat Dapil II. Yahya mantan Camat Mentaya Hilir Utara hanya mampu mendulang 100 suara di Dapil II.
Dadang H Syamsu terlalu kuat untuk dilawan di PAN yang mampu meraih 2.039 suara. Upie mantan Camat Bukit Santuai juga belum mampu mempertahankan kursi Hanura di Dapil V.
Mereka harus kehilangan karena Hanura hanya mampua memperoleh 840 suara saja. Sementara itu PPP kini harus tumbang di periode 2019-2024. Jangankan untuk menambah kursi mempertahkan 3 kursinya saat ini saja tidak mampu.
--page
"Kalau melihat nasib PPP ini karena caleg yang dipasang banyak yang tidak mampu mendulang suara banyak," kata Bambang. Seperti di Dapil I caleg inkumben mereka Rina Rahayu hanya mendapatkan 582 suara.
Sementara caleg lain tidak mampu mendongkrak banyak suara hingga PPP hanya mampu meraup 1.621 suara saja. Begitu juga di Dapil II. Mereka harus kehilangan kursi karena hanya mampu meraup 2.031 suara.
Bahkan caleg inkumben Ida Laila hanya mendapatkam 648 suara saja. Kursi mereka harus direbut Nasdem yang mendulang 3.079 suara dengan memasang caleg inkumben pindahan Syahbana.
Di Dapil III mereka teselip juga oleh Nasdem yang mampu mendapatkan kursi dengan perolehan 2.170 suara. Sementara PPP hanya mendapatkan 2.145 suara.
Salasiah caleg inkumben mereka hanya meraup 993 suara saja. Nasdem dari 5 dapil mampu mendapatkan 4 kursi bertambah dari sebelumnya yang hanya mampu mendapatkan 2 kursi saja. (NACO/B-6)








