JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan pihaknya akan mendukung program hilirisasi industri kelapa sawit agar pasokan minyak sawit nasional terserap optimal. 

Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono, di Jakarta, Sabtu (18/5/2019), mengatakan pengembangan energi baru terbarukan sangat diperlukan sebagai pengganti bahan bakar fosil. 

Untuk itu, menurut dia, pemanfaatan minyak sawit mentah (CPO) untuk pengembangan biodiesel sebagai salah satu jenis energi terbarukan, menjadi langkah strategis untuk mengoptimalkan hilirisasi CPO.

"Melalui penguatan hilirisasi CPO, diharapkan kesejahteraan pekebun sawit turut meningkat, karena terciptanya peluang pasar domestik yang besar," tuturnya.

“Kementerian ESDM sudah menetapkan B30 dan sudah berjalan di Kementan B100. Pesan dari B100 ini adalah bukan jangan ekspor tetapi kita mampu serap banyak sekali,” katanya.

--page

Lebih jauh ia menjelaskan bahea meskipun mengalami peningkatan, ke depannya ekspor CPO Indonesia memang menghadapi sejumlah tantangan, salah satu tantangan terbesar adalah sentimen negatif Uni Eropa. 

Salah satu bentuk terbaru dari sentimen negatif itu adalah lahirnya kebijakan Renewable Energy Directive II (RED II) yang melarang sawit sebagai biodiesel.

Ia berjanji untuk terus melakukan negosiasi untuk menghadapi sentimen negatif Uni Eropa (UE) terhadap sawit Indonesia di pasar internasional.

"Berdasarkan informasi Kementerian Luar Negeri, masih ada jalan keluar dengan berdiskusi dengan pihak Uni Eropa," katanya.

Klaim UE yang menyebutkan bahwa perkebunan sawit memiliki risiko tinggi terhadap deforestasi, dibantah oleh Kasdi, apalagi Indonesia juga sudah mempunyai sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).

--page

Hal itu, tambahnya, sudah menjadi pembuktian bahwa pola perkebunan kelapa sawit yang dilakukan di Indonesia telah menerapkan prinsip dan kriteria sustainability (berkelanjutan).

"Jadi kalau ada klaim bahwa sawit Indonesia tidak sustainable itu sama sekali tidak benar. Menurut catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dalam lima tahun terakhir kita sudah tidak ada lagi pelepasan kawasan hutan, sehingga salah kalau dikatakan kelapa sawit membuka hutan," ujarnya melalui keterangan tertulis.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) ekspor sawit Indonesia pada Maret 2019 meningkat tiga persen dibandingkan bulan sebelumnya dari 2,88 juta ton meningkat menjadi 2,96 juta.

Sementara ekspor khusus CPO dan produk turunannya, meningkat dari 2,77 juta ton pada Februari menjadi 2,78 juta ton pada Maret. Peningkatan permintaan CPO dan produk turunannya dari Indonesia yang cukup signifikan datang dari Asia khususnya Korea Selatan, Jepang, dan Malaysia.

Meskipun demikian, Kasdi menegaskan Pemerintah Indonesia tidak hanya akan mengandalkan ekspor, terutama jika hanya dalam bentuk mentah. Kementan akan terus mendorong pemanfaatan CPO untuk biodiesel dalam negeri.

--page

"Kita akan terus berupaya memperkuat hilirisasi seperti menyerap CPO untuk kebutuhan biodiesel," katanya. (NEDELYA RAMADHANI/m)