PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Dugaan pungli yang dilakukan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Palangka Raya, juga dibantah Setevi, salah seorang orangtua calon siswa sekolah tersebut.

Setevi menyatakan jika dalam pembangunan gedung kelas mandiri tersebut murni dari inisiatif dari orangtua siswa, yang menginginkan anaknya untuk bisa sekolah di sana.

"Kami hanya ingin anak kami bisa belajar agama di MTsN itu, dan ini murni onisiatif kami orang tua. Tidak ada sekolah ikut campur, semuanya diserahkan kepada kami," kata Setevi yang juga wakil ketua pengurus pembangunan gedung kelas mandiri, Senin, 27 Mei 2019.

Dia menambahkan, jika hingga saat ini masih belum ada kepastian berapa jumlah dana yang harus dikumpulkan karena masih dalam tahap diskusi. Pihaknya juga masih mencari orangtua lainnya yang ingin ikut berpartisipasi.

"Kami belum menemukan angka pasti berapa yang harus dikumpulkan untuk pembangunan gedung kelas itu, masih mencari juga orangtua yang ingin berpatisipasi," kata Setevi.

--page

Perihal dana Rp 19 juta yang sempat terlontar untuk membangun gedung tersebut, ditegaskannya tidak ada. Karena sampai sekarang pihaknya belum bisa memastikan nominalnya.

"Tidak ada Rp 19 juta itu. Itu hanya terucap saat rapat awal. Setelah diskusi dan perhitungan kembali, dana yang harus dikumpulkan tidak sampai segitu, bahkan menyentuh Rp 13 juta pun tidak," tandasnya.

Sementara pihak MTsN 1 Palangka Raya, baru akan menyutujui pembangunan kelas mandiri tersebut, jika sudah ada Rencana Anggaran Pembangunan, serta gambar gedung kelas yang akan dibangun.

"Sebelum itu kami akan minta RAB dan blueprint  gedung kelasnya, kemudian kami laporkan ke kemenag untuk persetujuan. Dan untuk kepengurusan serta masalah pendanaan kami tidak ikut campur. Semua ada pada orangtua/wali dari siswa," tegas Kepala MTsN 1 Palangka Raya, Rita Sukesih, Senin, 27 Mei 2019.

Pihak sekolah juga memberi waktu seminggu kepada orangtua siswa, untuk segera memastikan terkait pembangunan gedung kelas mandiri tersebut. (AGUS/B-11)