BORNEONEWS, Palangka Raya - Pemerintah bersama pihak terkait kini sedang bekerja ekstra mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Terkait itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran Kalteng, Mofit Saptono Subagio menginstruksikan langsung serbu alias ke lapangan, meskipun hanya sebatas menerima laporan hotspot atau titik api, terlebih kebakaran.
"Kalau ada laporan hotspot langsung serbu. Kita tidak harus pastikan hotspot-nya apa. Tapi berpikir kalau ada hotspot berarti potensi api disana," kata Mofit.
Oleh sebab itu, dia berharap semua petugas BBPD di semua wilayah termasuk TNI dan Polri bisa menyamakan persepsi tersebut.
Menurutnya, salah satu kendala yang dihadapi dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan itu adalah sumber air.
--page
"Kita berterimakasih dengan adanya sumur bor yang sudah dibangun karena sekarang sumber air minim sekali. Contohnya, ketika kejadian di lingkar luar. Jarak antara titik api dengan tepian jalan sampai 600 meter. Nah kita mendeteksi ada sumur bor yang jaraknya lebih dari 1.000 meter dari titik api. Sehingga kita harus mencari sumber air," kata Mofit.
Sumber air yang dimaksud, bukan air yang mengalir melainkan sisa-sisa di kubangan yang tentunya bercampur dengan lumpur. Tidak hanya itu, menuju titik api juga harus berjalan karena tidak ada aksesnya.
Sementara itu, pada Sabtu, 29 Juni 2019 malam, laporan kebakaran lahan kembali diterima di Jalan Tjilik Riwut Km 9.
Mofit bersama timnya dan pihak terkait juga langsung turun ke lokasi untuk memadamkan kobaran api. (BUDI YULIANTO/B-11)








