PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Berdasarkan data yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah, komponen harga yang diatur oleh pemerintah atau administered prices ternyata dapat mereduksi dampak inflasi yang terjadi pada Juni 2019.

Diketahui jika inflasi yang terjadi di Kalteng dengan dua kota yang menjadi sampel BPS yakni Palangka Raya dan Sampit, dipengaruhi oleh tingkat harga komoditas/jasa pada komponen inti atau core inflation, dan komponen harga yang bergejolak atau volatile foods.

Kepala BPS Kalteng Yomin Tofri mengatakan, jika tingkat harga komoditas/jasa pada komponen inti di Kota Palangka Raya pada Juni 2019 mencapai 0,13 persen. Sedangkan untuk Kota Sampit sebesar 0,42 persen.

Kemudian untuk kontribusi inflasi dari komponen harga bergejolak untuk Kota Palangka Raya sebesar 0,18 persen, sedangkan Sampit justru mengalami deflasi sebesar 0,22 persen.

 “Kebijakan pemerintah dalam mengatur harga cukup berpengaruh dalam mereduksi tingkat inflasi di Kalteng. Dengan kebijakannya pemerintah mampu mereduksi tingkat inflasi sebesar 0,19 persen untuk Kota Palangka Raya, sedangkan untuk Kota Sampit sebesar 0,04 persen,” ujar Yomin Tofri, Selasa, 2 Juli 2019.

--page

 Ia menambahkan jika kontribusi yang cukup tinggi dari komponen harga yang bergejolak tersebut yakni mencapai 0,22 persen, mampu menekan tingkat inflasi menjadi 0,16 persen di Kota Sampit sehingga mengalami penurunan pada bulan Juni 2019 ini.

“Komponen volatile foods ini cukup berkontribusi di Sampit. Dengan angka deflasi yang mencapai 0,22 persen mampu meenekan kenaikan sebagian besar harga komoditas di Sampit,” tuntasnya. (AGUS/B-3)