PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng), pemerintah diharapkan terus melakukan pemdampingan terhadap masyarakat agar kebiasaan membakar lahan tidak terus terulang.

Aktivis lingkungan hidup, Aryo mengatakan, akan menjadi suatu hal yang berbahaya jika masyarakat dibiarkan tanpa adanya pendampingan. Karena masyarakat akan kembali pada kebiasaanya dalam berladang dengan membakar lahan.

“Jika tidak ada pendampingan. Ini bahaya. Masyarakat masyarakat akan kembali ke kebiasaannya berladang dan otomatis kembali membakar lahan,” ujar Aryo. Rabu, 17 Juli 2019.

Aryo mengatakan, dalam menjadikan masyarakat sebagai pelaku utama pencegahan karhutla pada prinsipnya harus ada regulasi yang sah dan jelas berupa produk perda. Selain itu, semestinya ada anggaran yang jelas dari pemerintah sehingga masayarakat sendiri bisa bergerak memikirkan upaya buka lahan tanpa api di lingkungannya.

“Sekarang sejumlah organisasi peduli api dan lain sebagainya masih mengandalkan dana swadaya. Sehingga, upaya pencegahan hanya begitu-begitu saja, dan hasilnya bisa dirasakan sendiri,” pungkas Aryo.

Akibat dari Karhutla pun bisa dirasakan hari ini. Hal itu dapat terlihat saat perayaan HUT Kota Palangka Raya yang sedikit diwarnai dengan pemandangan kabut asap yang menyelimuti Kota Palangka Raya, meski tidak pekat. Hal itu pastilah cukup mengganggu kenyamanan masyarakat. (AGUS/B-2)