PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Untuk mencegah terjadinnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Kotawaringin Barat, terus melakukan pendekatan dan pendampingan terhadap kelompok tani.

Pendampingin dimaksudkan agar para petani tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Kepala Dinas TPHP Kobar Kamaludin, Kamis, 18 Juli 2019, mengatakan selain dilakukan pendekatan dan pendampingan, pihaknya juga memberikan bantuan alat mesin pertanian (alsintan).

"Ini merupakan tugas berat untuk mengubah pola pikir masyarakat yang terbiasa membakar lahan saat musim tanam tiba," ujarnya.

Kamaludin mengaku, hingga kini belum menerima laporan munculnya titik panas atau hotspot dari areal pertanian. Ia menduga, hal itu tidak lepas dari adanya larangan membakar hutan dan lahan. Sehingga masyarakat berpikir dua kali untuk membakar lahan.

--page

Kamaludin melanjutkan, potensi pertanian di Kobar sangat besar. Namun, lahan pertanian yang efektif itu seluas 4.000 hektare. Dari luasan itu hanya 705 hektare lahan yang digarap secara berkala atau tidak tergantung pada perubahan iklim. Adapun 705 hektare lahan yang di garap secara rutin yakni tanaman pangan. Adapun cara penggarapanya tergantung cuaca.

Kamaludin mengakui, hingga saat ini masih ada keluhan dari kelompok tani dengan adanya larangan membakar hutan dan lahan. Petani beralasan kondisi lahan akan lebih baik bila dibuka dengan cara dibakar. Selain itu, biayanya lebih ringan bila dibandingkan dengan membuka lahan menggunakan alsintan.

Namun, karena terus dilakukan pendekatan dan pendampingan, para petani bisa meninggalkan kebiaasaan membakar lahan. Sebab membakar lahan akan berdampak sangat buruk baik bagi lingkungan dan kesehatan.

"Terus secara perlahan kita lakukan pendekatan dan hasilnya banyak petani yang mengubah cara lama mereka, yaitu membakar lahan," pungkas Kamalaudin. (DANANG/B-3)