BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Badan Nasional Penganggulangan Bencana atau BNPB Letnan Jenderal TNI Doni Monardo menghadir Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan di VIP Room Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Minggu, 4 Agustus 2019.
Rakor itu juga dihadiri Sekda Kalteng Fahrizal Fitri, Danrem 102/Panju Panjung Kolonel Arm Saiful Rizal, Kapolres Palangka Raya AKBP Timbul Rein Krisman Siregar, dan pejabat lainnya.
Dalam kesempatan itu, kepala BNPB mengatakan kedatangannya ke Kalteng untuk memberikan semangat kepada seluruh unsur terkait agar terus meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya karhutla.
Setelah mendengarkan beberapa laporan, ia menyimpulkan bahwa penyebab utama kebakaran lahan adalah faktor manusia.
"Saya ulangi penyebab utama adalah manusia. Hanya 1% saja faktor alam. Pertama petir. Tapi dalam kondisi kemarau seperti ini apakah mungkin petir? Jelas tidak," katanya.
--page
Kedua, lanjutnya, adanya gesekan kayu yang tertiup angin. Tetapi, hal itu juga terasa tidak mungkin bisa terjadi. Ketiga adalah logam termasuk cermin yang memantulkan cahaya sinar matahari sehingga terjadi titik panas pada suatu tempat. Namun hal itu juga terasa tidak mungkin terjadi.
Faktor lain, lanjut dia lagi, kemungkinan akibat puntung rokok yang dibuang sembarangan. Hal itu pun juga tidak mudah untuk terbakar.
Oleh sebab itu, ia meminta ribuan satgas yang telah disebar lebih semangat bekerja termasuk semangat untuk mencari tahu siapa yang menjadi pelaku pembakaran.
Di sisi lain, ia menyampaikan bahwa upaya BNPB adalah melakukan pencegahan. Hal itu dinilai jauh lebih efektif dan semua komponen juga harus siap bekerja keras.
Ia juga meminta pejabat pemerintah sampai ketingkat desa melakukan silaturahmi tatap muka dengan warga untuk terus menyerukan jangan melakukan pembakaran.
--page
"Cara ini untuk mengurangi kebakaran. Bahkan bisa menghentikan karena kita semua sudah tahu penyebabnya. Jadi bukan bagaimana memadamkan api tapi bagaimana mengurus supaya tidak terjadi kebakaran lagi."
"Kalau sudah terjadi, apaboleh buat. Langkahnya adalah pemadaman. Sekali lagi, ini adalah masalah perilaku, mindset, kebiasaan dan hanya bisa dirubah kalau kita mampu merubah paradigma seseorang. Saya katakan tidak ada yang sulit," pungkasnya. (BUDI YULIANTO/B-3)








