BORNEONEWS, Palangka Raya – Akhir-akhir ini, Kota Palangka Raya telah diguyur hujan. Anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa inipun menghilangkan kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan yang sempat meresahkan masyarakat.
Meski titik api kini berkurang drastis seiring turunnya hujan, helikopter water bombing tetap disiagakan.
“Heli masih di-standby-kan karena mengacu pada BMKG bahwa musim kering ini sampai dengan minggu ke empat bulan September,” kata Kepala Badan Penaggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran atau BPB-KP Kalteng Mofit Saptono Subagio, Selasa, 27 Agustus 2019.
Artinya, helikopter tersebut untuk sementara dihentikan operasionalnya sembari memantau kondisi cuaca. Kecuali helikopter patroli yang masih tetap berkeliling memantau terjadinya titik api.
Mofit menuturkan, titik panas atau hotspot untuk hari ini tidak terpantau. Namun pada Senin, 26 Agustus 2019, Pusat Pengendalian Operasi atau Pusdalops mendapat laporan kebaran lahan di wilayah Kobar dan Lamandau dengan luasan 1,5 hektare.
--page
“Untuk statusnya kita masih tetap siaga darurat karena sudah diperpanjang beberapa waktu lalu. Tim masih terus memantau dan setiap hari kita melakukan evaluasi,” ungkap Mofit.
Sebagaimana diketahui, kabut asap beberapa waktu lalu sempat menyelimuti Palangka Raya dan daerah lain. Bahkan, kondisi udara akibat kabut asap sempat masuk kategori berbahaya. Tim satuan tugas kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla diturunkan untuk mencegah kebakaran.
Tidak hanya dari sisi jalur darat, proses pemadaman melalui jalur udara yakni dengan menggunakan helikopter water bombing pun dilakukan. Di sisi lain, masyarakat juga berdoa melalui salat Istisqo memohon kepada Tuhan agar diturunkan hujan. (BUDI YULIANTO/B-3)








