SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Pembatasan pembelian solar subsidi membuat para sopir truk material galian C di Kabupaten Kotawaringin Timur mengancam akan melakukan aksi hingga akan menaikan harga material.

Menurut aktivis di Kotim Audy Valent, Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) masih melakukan pembatasan pengisian solar subsidi tanpa ketentuan jelas. Rencananya awal pekan mendatang mereka akan melakukan aksi demo dengan para sopir.

"Para sopir galian C sudah meminta kami untuk bersama mereka turun ke jalan untuk demo," kata Audy, Jumat, 13 September 2019 saat antrian BBM di SPBU Km 2 Jalan Jenderal Sudirman Sampit.

Menurut Audy, pembatasan pembelian ini tanpa aturan yang jelas. Pasalnya truk angkutan sawit, pupuk hingga karnel milik perusahaan yang mengisi solar subsidi dalam keadaan bak kosong dilayani oleh SPBU.

Harusnya jika ada aturan demikian diberlakukan agar truk itu menggunakan non subsidi. "Sementara kuotanya terbatas, salah-salah kita tidak kebagian nanti," kata Jais, sopir truk galian C menambahkan.

--page

Menurut mereka, jika dibatasi truk perusahaan jangan dilayani sama sekali. "Ini kosong dilayani saja. Harusnya jangan, mereka tahu truk bak U itu rata-rata punya perusaaam beda yang dump kami galian C," timpal sopir lainnya.

Jika tidak ada solusi, harga galian C menurut Jais bisa saja nantinya naik dua kali lipat jika sopir galian C terpaksa membeli minyak non subsidi. Untuk solar subsidi dijual dengan harga Rp 5.150 per liternya dan non subsidi atau Solar Dex seharga Rp 10.400 per liternya.

Bahkan saat pengisian itu, sopir galian C ingin melakukan protes dengan pihak SPBU. Namun pihak SPBU tetap mengisi Solar subsidi kepada truk bak U yang dalam keadaan kosong itu.

"Harusnya tidak boleh itu, prioritaskan truk galian C karena kami melayani masyatakat dan proyek pemerintah," tandas sopir lainnya. (NACO/B-2)