BORNEONEWS, Palangka Raya - Makhluk penjaga Kampung Lawang Uru, Kecamatan Banama Tingang, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah murka. Makhluk astral tersebut dikabarkan minta tumbal 34 nyawa manusia.
Alhasil, saat ini sudah ada 13 warga Desa Lawang Uru meninggal dunia dalam waktu kurang dari sebulan. Kematian mereka sangat beruntun. Masih belum kering tanah kuburan salah satu warga, warga lainnya menyusul.
Kematian warga seperti telah diatur intervalnya. Selang tiga atau empat hari, ada nyawa yang melayang. Entah itu karena bunuh diri, kecelakaan, dibunuh, mati sakit, bahkan mati mendadak.
Penyebab kematian belasan warga desa yang berjarak sekitar 73,9 kilo meter atau 1 jam 37 menit perjalanan dari Kota Palangka Raya melintasi jalan Palangka Raya – Kuala Kurun ini sungguh tidak lazim seperti ada bisikan gaib.
Yakni adanya peranan mahluk tidak kasat mata atau astral yang sedang mencari mangsa seperti kisah Nyi Roro Kidul di Pulau Jawa saat 1 Suro.
--page
Ada warga yang sore harinya masih terlihat sehat dan sedang duduk santai di teras rumah, namun tiba-tiba pada pagi hari mendengar kabar duka. Bahkan ada yang usai makan malam, setelah masuk ke kamar, tiba-tiba pada pagi hari ditemukan tewas gantung diri.
Konon, penyebab kematian warga Desa Lawang Uru ini karena mahluk penjaga kampung yang oleh warga dikenal dengan nama Nyaring atau Hantu Berambut Api (Berambut Merah) sedang murka. Sebab ada warga desa itu yang melanggar pantangan.
Beberapa warga Desa Lawang Uru kabarnya meremehkan pantangan makan rebung setelah ritual mamapas lewu (membersihkan kampung atau tolak bala) serta saat ada kematian di kampung.
Akibatnya Nyaring murka dan meminta tumbal puluhan nyawa. Beredar kabar dari beberapa warga setelah kejadian tersebut dilakukan acara adat manenung dan hasilnya kembali membuat merinding.
Nyaring masih ingin ada 21 nyawa lagi yang akan menjadi tumbal. Para tetua kampung sudah berusaha memohon ampunan dari Nyaring, namun ditolak. Nyaring tidak mau melunak dan tetap menuntut tumbal nyawa.
--page
Benarkah kematian misterius warga Desa Lawang Uru akibat makhluk penjaga kampung murka? Berikut penelusuran wartawan Palangka Post group borneonews.co.id pekan lalu.
Berdasarkan penelusuran dan bincang-bindang wartawan dengan Kepala Desa Lawang Uru, Hermanus, di sela acara pemakaman, bahwa ia juga tidak mengerti akan musibah yang begitu memilukan tersebut.
Bahkan sang kades juga ingin agar bala yang terjadi segera berakhir. "Sudah cukup, jangan ada lagi," ucap Kades dengan menghela napas dalam.
Kades juga sempat bercerita di kala usai melaksanakan prosesi pemakaman warga yang meninggal, setiap sore atau menjelang maghrib salah satu kuburan warga yang menyerupai rumah yang lengkap dengan kaca jendela, gorden bahkan pintu rumah makam selalu terjadi hal yang di luar nalar sehat.
"Saat menjelang maghrib, seusai kami bersih-bersih dari dalam salah satu kuburan terdengar suara panci, piring dan alat-alat dapur seperti dibanting, suara sangat gaduh sungguh sangat menakutkan. Aku kalau sudah menjelang maghrib cepat pulang, takut juga rasanya mendengar suara itu selama puluhan warga kami meninggal," cerita kades.
--page
Jamal, warga desa yang orangtuanya baru saja meninggal (almahum Sariman Bakran) juga merasa tidak percaya akan kepulangan bapaknya yang begitu cepat.
"Rencananya mau dibawa berobat ke Palangka Raya, karena bapak tiba-tiba mengeluh sesak nafas. Namun saat akan dibawa berobat di tengah jalan sudah meninggal," katanya sedih.
Hal ini juga diutarakan salah satu tokoh agama atau pemuka agama setempat saat pelayanan kebaktian mengantar jenazah. Bahwa pihak gereja juga tidak sempat menjenguk atau mendoakan (almarhum Sariman Bakran) di masa hidupnya, karena tidak menyangka begitu cepat kejadian yang terjadi.
"Saya lihat Pak Sariman itu sehat-sehat saja. Bahkan saya lihat dia beberapa hari membuat pondasi rumah, tidak pernah mendengar sakit. Tiba-tiba kabar sudah meninggal. Maaf, kami tidak sempat melayani doa, karena memang tidak ada pemberitahuan sedang sakit," ucapnya.
Cerita yang sama juga menimpa seorang warga di sana, sebut saja Yaprin (26), warga RT 03 Desa Lawang Uru yang ditemukan keluarga dan istrinya gantung diri usai makan bersama sekitar pukul 15.00 WIB.
--page
Seperti penelusuran wartawan Palangka Post, diketahui kematian belasan warga Lawang Uru ini beraneka ragam.
Ada yang mati bunuh diri (gantung diri), dibunuh (masih dalam penyelidikan polisi), tabrakan, mati sakit, hingga meninggal mendadak dan hingga berita ini dirilis tercatat sudah ada 13 warga Lawang Uru yang meninggal.
Peristiwa duka yang terjadi juga menghebohkan warga dan ramai dibincangkan di media sosial Facebook dan WhatsApp.
Beberapa warga Lawang Uru yang ada di Palangka Raya bahkan banyak menyampaikan rasa bela sungkawa dan berharap kejadian yang ada segera berakhir.
Melalui cuitan di Facebook akun Betsi menyampaikan Betsi Iwie merasa sedih. “BERDUKA LAGI, Selamat jalan om (pasupri/Kodop),” tulis Betsi dalam akun Facebook-nya.
--page
Menanggapi cuitan tersebut akun Kiky Maria menulis Buhen je hasambung pampatei hekau nah. Tidak hanya itu Andri Cello Kiky Maria dia tawa ki.itah lewu gin bingung.narai kia penyebab ah.dampai duka basambu2ng ampi??. Kiky Maria Yete tau lepah lumat kea uluh Lawang uru Mun kukau tarus, tulis Kyky Maria.
Demikian juga ramai group WhatsApp P. Usup Family juga menyampaikan turut berduka dan dalam cuitannya Ira menulis dari cerita bersambung, mulut kemulut hasil acara manenung Nyaring minta 21 korban lagi.
"Harun male mina car bakesah kua 21 uluh hindai ken huang lawang uru te je cagar buli kua hasil nenung, marinding rasa jia percaya mudahan ih dia tutu,” tulis Ira.
Hingga saat ini warga terus memanjatkan doa kepada Tuhan yang kuasa agar bala yang terjadi segera berlalu. Jumlah kurang lebih 700 kepala keluarga, usaha masyarakat yakni petani karet, bertani Padi, berkebun, pegawai negeri dan sebagian usaha tambang emas.
Jarak Desa Lawang Uru kurang lebih 70 km dari Palangka Raya. Keyakinan sekitar 80 persen Kristen Protestan, Islam kurang lebih 10 persen.
Kaharingan kurang lebih 5 persen, Katolik kurang lebih 3 persen, dan Pantekosta kurang lebih 2 persen. (Tim Palangka Post/B-6)
Catatan Redaksi:
Berita ini mendapat sanggahan dari pihak kepolisian. Sanggahan ini kami kutip dari website http://tribratanews.kalteng.polri.go.id, dan menanyangkannya dengan judul:
17 September 2019 - 20:10 WIB
Terima kasih,
Redaksi BORNEONEWS.CO.ID
(Catatan Redaksi ini dibuat pada Selasa, 17 September 2019, pukul 20:18)








