SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kabut asap tebal yang terjadi di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam beberapa hari terakhir tidak hanya berdampak terhadap masyarakat daerah ini saja. Namun hal itu juga membuat tim study alur Sungai Mentaya gagal terbang ke Sampit selama 2 hari. 

"Tamu saya harusnya pada Minggu, 15 September 2019 sudah tiba di Sampit, namun karena kabut asap pekat dirinya gagal terbang, dan pada Senin, 16 September 2019 dia kembali akan berangkat ke Sampit, namun kembali gagal, lagi-lagi faktor alam karena kabut asap," ujar Ketua Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) Koordinator Wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) Guntur Sya'ban, Rabu, 18 September 2019. 

Perwakilan tim study tersebut bernama Adrian dan Mr Herry dari Belanda. Mereka rencananya berangkat pada Minggu dari Bandara Sukarno Hatta menuju Sampit menggunakan pesawat Nam Air pada pukul 06.15 WIB. 

Karena berangkat pagi, mereka berinisiatif untuk datang lebih awal yakni pada pukul 05.00 WIB. Setibanya di bandara mereka belum mendapatkan kepastian berangkat sesuai jadwal hingga akhirnya pada sore hari pengumuman penerbangan dibatalkan. Karena tidak ada pilot yang berani terbang di tengah kabut asap tebal dengan jarak pandang terbatas. 

"Akhirnya mereka mengulangi lagi hal yang sama di hari kedua dengan harapan bisa menyelesaikan pekerjaan di Sampit sebelum hari Rabu, 18 September 2019," kata Guntur. 

--page

Namun apa boleh buat, kendala yang sama kembali didapat. Sehingga mereka gagal berangkat. Meskipun sempat 1 jam berada di pesawat, penerbangan malah dibatalkan, akibat kabut asap yang pekat. 

Hal itupun sangat disayangkan oleh pihaknya, karena pekerjaan yang seharusnya dapat dilakukan tepat waktu malah tertunda akibat faktor alam. Untuk memaksakan berangkat pada Selasa, 18 September 2019 pun tidak bisa dilakukan, karena mereka takut tidak bisa pulang ke Jakarta di waktu yang tepat. Hingga akhirnya study alur Sungai Mentaya tertunda. 

"Tentu hal ini sangat disayangkan, karena faktor alam, tim study gagal ke Sampit. Sehingga harus ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan," terang Guntur. 

Kabut asap pekat memang terjadi di Sampit dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah penerbanganpun dibatalkan. Karena jarak pandang dibawah 2.500 meter. Sehingga sangat beresiko untuk dilakukan pendaratan. 

Namun pada hari ini, Rabu, 18 September 2019, kabut asap di Sampit sudah mulai berkurang. Bahkan jarak pandang sudah mencapai 3.000 meter pada pukul 13.00 WIB siang. Sedangkan kualitas udara masuk dalam kategori tidak sehat yakni 171,04 mikrogram. (MUHAMMAD HAMIM/B-2)