BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kampanye negatif yang dilancarkan berbagai lembaga di Uni Eropa terhadap komoditas sawit Indonesia, sebenarnya dapat diredam jika seluruh rakyat Indonesia ikut menangkal tindakan tersebut.
Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengajak para warganet Indonesia untuk terus aktif melawan kampanye negatif dari pihak tertentu dan asing terhadap kelapa sawit yang telah terbukti menjadi penyumbang devisa negara dari sektor non-migas.
"Media sosial telah menjadi media penyebaran berita negatif tentang sawit dan membuat citra buruk tentang Indonesia. Karena itu, harus ada upaya kampanye positif yang intensif tentang sawit, di media sosial," kata Mukhammad Misbakhun, melalui pernyataan tertulisnya yang diperoleh medio pekan ini.
Menurut Misbakhun, oemerintah dan para pihak terkait, penting untuk menjelaskan fakta-fakta baik mengenai komoditas dan industri sawit kepada masyarakat.
Politisi Partai Golkar yang menjadi salah satu pengusul Rancangan Undang-Undang (RUU) Perkelapasawitan ini menyatakan, menyambut baik langkah Kementerian Kominfo yang meluncurkan kampanye sawit baik untuk masyarakat.
"Sejatinya pertarungan kampanye sawit baik, melalui medsos harus terus dilakukan sehingga opini negatif bisa dilawan. Apalagi, Indonesia adalah salah satu kekuatan pengguna medsos di dunia," katanya.
Ia menegaskan, kampanye negatif tentang sawit harus dilawan, karena ada pihak-pihak yang melakukan perang dagang terhadap sektor kelapa sawit di Tanah Air.
Menurut Misbakhun, salah satu bentuk kampanye negatif tentang sawit yang selama ini digaungkan adalah industri sawit telah menyebabkan deforestasi, kebakaran hutan, membunuh orang utan, dan merusak lahan gambut.
"Kampanye negatif ini berdampak pada turunnya harga tandan buah segar serta berdampak pada kehidupan petani," katanya.
Misbakhun menjelaskan, informasi negatif tentang sawit tidak hanya beredar di Indonesia, juga di mancanegara, sehingga memberikan dampak produk sawit Indonesia menghadapi resistensi di luar negeri.
Menurut dia, ada negara-negara yang ingin ekonomi Indonesia tidak kuat sehingga tetap berutang dan tergantung pada negara-negara tersebut.
"Sawit adalah satu-satunya komoditas ekspor yang dikenai bea ekspor," katanya.
Misbakhun menambahkan, Indonesia saat ini merupakan negara penghasil sekaligus konsumen terbesar minyak sawit. )NEDELYA RAMADHANI/m)








