BORNEONEWS, Pulang Pisau - Kepala Desa Lawang Uru Hermanus membenarkan adanya kematian beruntun yang terjadi di desanya selama kurang lebih tiga bulan belakangan ini.
Didampingi istrinya dan salah satu aparat desa, Hermanus membeberkan belasan nama tersebut disertai gambaran penyebabnya, Jumat 20 September 2019.
Pertama, Lutie Adang atau biasa dipanggil Induk Jaya, memiliki riwayat penyakit maag selama kurang lebih delapan tahun. Dia meninggal pada bulan Juli 2019.
Kedua, Bapak Jamal, meninggal karena penyakit diabetes. Dia meninggal pada Agustus 2019.
Ketiga, Nias Bajau, biasa dipanggil Bapak Redi, meninggal karena penyakit stroke pada Juli 2019.
--page
Keempat, Sambut Idi, mengalami penyakit paru-paru dan meninggal pada Agustus 2019.
Kelima, Induk Buah (Sema Main) sudah berusia 83 tahun dan meninggal Juli 2019.
Keenam, Esa Tamin biasa dipanggil Indu Muang mengalami penyakit jantung dan meninggal pada Agustus 2019.
Ketujuh, Mombot, mengalami kelainan jiwa sejak tahun 2017 dan meninggal karena bunuh diri.
Kedelapan, Bapak Jagau (Siraikat) meninggal karena sakit pada Agustus 2019.
--page
Kesembilan, Yunus, meninggal ditemukan di sumur sekitar September 2019.
Kesepuluh, Bongking, meninggal karena kecelakaan lalu lintas pada Juli 2019.
Kesebelas, Oging (Apri) atau anak Bapak Iwan, meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Bukan warga Lawang Uru. Hanya Bapaknya berasal dari Lawang Uru.
Keduabelas, Miken meninggal dunia pada Juli 2019 karena sudah tua dan mengalami penyakit paru-paru.
Ketigabelas, Darlan Tuyup biasa dipanggil Kodop meninggal pada September 2019 karena penyakit komplikasi dan jantung.
--page
Ketiga belas nama yang meninggal dunia dalam waktu tiga bulan belakangan ini, menurut Hermanus, ada penyebabnya. Bukan karena hal-hal mistis sebagaimana isu yang beredar di masyarakat belakangan ini.
"Mereka-mereka yang meninggal itu ada riwayat sakitnya. Saya kenal baik mereka dan juga mengetahui penyakit yang mereka derita sejak lama," kata Hermanus didampingi istrinya. (ARNOL/m)








