PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pawai Nasi Adab dalam rangka perayaan hari jadi ke - 60 Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) dinilai kurang mengena kesakralanannya. Panitia akan lakukan evaluasi.

Hal ini disampaikan Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disidik) Kobar Jamri. Ia juga sebagai panitia Pawai Nasi Adab Jamri.

"Memang pawai kemarin makna atau kesakralan Nasi Adab kurang mengena. Masih banyak peserta yang tidak tahu. Masih ada peserta yang menonjolkan seninya masing - masing," ujarnya saat diwawancarai Borneonews, di ruang kerjannya, Selasa, 8 Oktober 2019.

Untuk itu, menurut Jamri, ia akan melakukan evaluasi bersama pimpinan dan membuat petunjuk teknis agar makna dari pawai Nasi Adab lebih berkesan. Sehingga tidak terkesan sama dengan pawai - pawai lainnya.

"Apakah nasi adab harus dipikul dengan memakai baju adat? Itu nanti akan kami komunikasikan dengan pimpinan serta kami konsultasikan dengan para kesultanan," ungkapnya.

--page

Sebenarnya, pawai nasi adab itu peserta diminta memberikan penampilan kreasi nasi adab. Seperti nasi tumpeng dengan berbagai kreasinya.

Adapun sejarahnya, nasi adab itu untuk acara sakral pada saat zaman kerajaan dulu. Ada yang digunakan potong rambut bayi "Begunting" bahasa daerahnya. Kemudian ulang tahun, syukuran, dan juga bahkan untuk acara tolak bala.

"Jadi tergantung pemakaiannya untuk acara apa. Kebetulan kemarin adalah untuk acara sykuruan hari jadi ke-60 Kobar," jelasnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Borneonews dari salah satu peserta merasa resah terkait kurang tertibnya peserta pawai. Jadi para pejalan kaki ini tidak berjalan sesuai nomor urut.

Jamri menjelaskan, dengan keterbatasan tenaga pihaknya mengakui kewalahan dengan membludaknya peserta yang mencapai 327 peserta jadi ribuan orang.

--page

Bahkan tak disangka-sangka banyak komunitas yang juga ikut turun ke jalan meramaikan pawai tersebut. Bahkan Bupati pun menyatakan pawai sangat meriah dan masyarakat tumpah ruah ke jalan. Bahkan pukul 13.00 peserta pawai baru selesai melintasi panggung kehormatan.

Sebelumnya, pihaknya telah mengatur peserta, mulai dari pelajar, mobil hias dan umum. Namun masyarakat pejalan kaki dari segala penjuru masuk. Dengan keterbatasn tenaga pihaknya mengakui tidak bisa mengaturnya.

"Kita sudah buat po -pos start. Namun banyak yang tidak terkoordinir masuk untuk ikut pawai, mungkin ke depan kita lakukan juknisnya, kita inventarisir dengan baik, sehingga pesan tujuan pawai dapat sampai ke peserta," ujarnya.

Selain itu juga pihaknya akan mengadakan pengklasifikasian antara pawai budaya, pawai pembangunan dan pawai HUT kemerdekaan agar peserta dapat menyesuaikan tema pawai. (DANANG/B-5)