BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Stand Lapas Pangkalan Bun hebohkan Kobar Expo 2019 dengan penampilan angklung yang atraktif, sehingga membuat pengunjung berkerumun menyaksikannya, Selasa, 8 Oktober 2019.
Hal tersebut nampak terlihat saat Borneonews, mencoba menyusuri beberapa stand yang mempunyai daya tarik, terdengar suara merdu getaran bambu dari balik kerumunan pengunjung expo.
Kemudian Borneonews mencoba mendekat dan ternyata nampak enam orang dengan berbaju hitam memainkan angklung, tepat di depan stand milik Lapas Kelas II B Pangkalan Bun.
Para pengunjung asik mengabadikan momen tersebut dengan ponselny. Bahkan ada yang live streaming di medsosnya, seraya ikut bernyanyi.
"Entah apa yang merasukimu, hingga kau tega meninggalkan aku," sedikit lirik penulis dengar yang hingga kini masih terngiang.
--page
Alunan musik angklung diiringi dengan beberapa alat musik lainnya, dengan genre musik koplo, seolah mengajak pengunjung untuk bergoyang bersama.
Bagi para penikmat musik yang terpukau dengan penampilan mereka, ada wadah yang terbuat dari rotan untuk diisi dengan pundi rupiah.
Sementara itu, Kalapas Kelas llB Pangkalan Bun Kusnan mengatakan, musik angklung ini terbuat dari bahan daur ulang, alat musik sederhana ini terbuat dari bahan yang tidak dipakai.
"Misalnya drum dibuat bas, sisa pipa paralon dibuat gendang, botol sprite dibuat ngeritem (pengiring), dan Takdud dari botol big cola, hanya angklungnya saja kita datangkan dari Jawa, dan dirakit oleh warga binaan," ujarnya.
Selain penampilan musik tradisional dengan memanfaatkan bahan bekas, di dalam stand ada juga produk ramah lingkungan, yaitu, piring rotan, pot bunga rotan, topi rotan, lukisan kaca, lukisan kain kanfas, gantungan kunci, lukis bakar, miniatur kaca (tempat bunga dan asbak), mandau tangkai dari tanduk rusa, tongkat naga dari ulin, Jam hias dari kayu.
--page
"Ada juga kuliner kripik pisang, amplang tengiri, serta kaos sablon yang semuanya kerajinan warga binaan," ungkapnya.
Perlu diketahui bahwa, dari yang memainkan musik, kemudian pembuat kerjainan tangan di stand lapas adalah warga binaan.
Hasil karya warga binaan dapat memukau pengunjung, mulai dari alunan musiknya, kemudian hasil karyannya. (DANANG/B-5)








