BORNEONEWS, Tamiang Layang - Berawal dari kain perca dari sisa jahitan baju pelanggan, Deriyani (40) mencoba membuat tas batik. Alhasil, kini ia terima banyak order.
"Ide awalnya dari pelanggan yang sayang dengan sisa kain jahitan baju kalau dibuang begitu saja serta keinginan untuk miliki tas yang matching dengan baju batik yang dipakainya, jadi saya coba buatkan tas," kata Deriyani memulai kisah ketika Borneonews bertandang ke rumahnya yang terletak di RT 10 Desa Jaar, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur, Sabtu, 12 Oktober 2019.
Ternyata pelanggan yang puas dengan desain tasnya, mengunggah ke media sosial sehingga banyak orang yang tertarik untuk dibuatkan tas dari sisa jahitan bajunya. Bahkan saat ini banyak yang langsung memesan dibuatkan tas saja, tanpa menjahit baju.
"Kadang jahit bajunya di tempat lain, tapi sisa kainnya dibawa kesini untuk dibuatkan tas," imbuhnya.
Menurut Deriyani, sebenarnya usaha jahitannya yang dinamakan Rumah Jahit Yank Dank sudah dimulai sejak 5 tahun lalu, namun untuk pembuatan tas batik baru berjalan 3 bulan.
Sekalipun tidak membuka outlet khusus, lanjutnya, pesanan tas mengalir dari cerita mulut ke mulut konsumen yang puas dengan desain tasnya, dan juga lewat akun facebook Rumah Jahit Yank Dank yang dimilikinya.
--page
"Tidak ada kendala dalam penjualan, justru saya kewalahan melayani order tas. Dalam sebulan rata-rata di atas 20 buah pesanan tas," kata Deriyani.
Harga tas yang dibuatnya berkisar antara Rp50 ribu - Rp250 ribu sesuai dengan ukuran. Untuk tas yang dibuat dari sisa jahitan baju, ukurannya akan menyesuaikan dengan ukuran kain yang tersisa.
Seperti umumnya pelaku usaha, Deriyani juga memiliki impian agar kelak usahanya berkembang lebih besar lagi serta menginspirasi ibu-ibu yang lain, yang ingin berwirausaha dari rumah.
"Saya ingin punya reseller yang menjual tas-tas saya di berbagai daerah dan juga ingin usaha ini menginspirasi ibu-ibu yang lain, yang ingin usaha untuk membantu suami," pungkasnya. (AGUSTINUS BOLE MALO/B-2)








