BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Di tengah lesunya harga minyak sawit mentah (CPO), Indonesia sebenarnya mampu tampil di kancah global melalui pengembangan biodiesel berstandar global, termasuk EURO VI dan CHINA VI.
Standar emisi yang semakin ketat di sejumlah negara maju, harus bisa dikejar oleh Indonesia sebagai pemasok CPO terbesar dunia. Untuk itu, diperlukan teknologi terdepan untuk mengolah CPO sebagai bahan baku pembuatan biodiesel berstandar internasional.
Thomas Soo, penasihat Antara Digital Media yang memiliki banyak mitra di China, menyebutkan bahwa stok CPO di Indonesia yang melimpah, merupakan peluang bagi negeri ini untuk mengendalikan pasokan biodiesel berbasis sawit secara global.
"Ini merupakan kesempatan bagi Pemerintah Indonesia untuk memanfaatkan teknologi maju China dalam mengembangkan biodiesel ramah lingkungan untuk berbagai jenis kendaraan bermesin diesel, termasuk kendaraan pribadi," kata Thomas di sela kunjungan ke kantor Jiangsu Jinhengyu Petrochemical CO, LTD. di Nanjing, China, Selasa (22/10).
General Manager Jiangsu Jinhengyu Petrochemical, Yu Yuanjie, menjelaskan saat ini sudah dikembangkan biodiesel murni alias B100.
--page
Menurut Yu, biodiesel murni ini adalah minyak yang dapat diproduksi sebagai bahan bakar diesel dengan transesterifikasi menggunakan energi biomassa sebagai bahan baku.
"Proporsi biodiesel yang berbeda dapat diperoleh dengan memadukan berdasarkan B100, seperti B5, B20 dan sebagainya, yang masing-masing mewakili 5% dan 20% biomassa biodiesel," ucap Yu.
Lebih jauh ia menjelaskan secara umum disebut dalam skala global sebagai produk yang diperoleh dengan transesterifikasi bio-minyak dan alkohol, yaitu ester monoalkil asam lemak, perwakilan khasnya adalah metil ester asam lemak (FAME), sehingga B5, B20 dan biodiesel lainnya saat ini beredar di pasar.
"Hampir semua minyak campuran dari ester metil asam lemak," katanya.
Sedangkan teknologi baru yang dikembangkan Jiangsu Jinhengyu Petrochemical, ujar Yu, berbeda hasilnya dengan minyak B5 dan B20 yang beredar di pasar. Saat ini pihaknya sudah mengembangkan minyak diesel B40 melalui teknologi terkini.
--page
"Biodiesel B40 tidak dibuat dari ester asam lemak monoalkil sebagai bahan baku, tetapi diproduksi oleh teknologi baru, 35% -40% dari bahan baku berasal langsung dari organisme. Gemuk, tanpa transesterifikasi, dan dapat mencapai diesel berkualitas sangat tinggi untuk transportasi perkotaan, " tambahnya.
Penjelasan Yu tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi para pemangku kepentingan di industri sawit dan energi untuk menghasilkan energi baru terbarukan guna mendukung mobilitas di segala segmen.
Adapun CEO Antara Digital Media, Darmadi, menyebutkan bahwa pihaknya sebagai anak perusahaan LKBN Antara dengan jaringan yang luas di seluruh Indonesia, dapat menjadi penghubung bagi semua pemangku kepentingan industri sawit di seantero negeri untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan asal Negeri Tirai Bambu tersebut.
"Kepiawaian perusahaan petrokimia asal China di bidang pengembangan teknologi pengolah biodiesel ramah lingkungan, dapat dimanfaatkan oleh seluruh daerah penghasil sawit untuk menghasilkan bahan bakar yang mampu menembus pasar ekspor di berbagai negara, terutama di Uni Eropa dan Amerika Serikat," katanya.
Tak hanya itu, kesejahteraan petani sawit rakyat dapat terangkat apabila serapan bahan baku untuk biodiesel B40 berupa minyak sawit cukup besar. Dengan demikian akan berimbas pada terdongkraknya harga CPO.
--page
Sebelumnya, Antara Digital Media telah menjembatani terjalinnya kerja sama kota kembar antara Mataram dan Pengzhou di China.
"Selain itu kami juga dapat memfasilitasi pertemuan para pelaku bisnis di Tanah Air dengan pengelola kawasan pengembangan industri Nanjing Jiangbei New Area Center Development di kota Nanjing," ungkapnya.
Pasar China adalah pasar yang besar bagi komoditas dan produk Indonesia, sehingga penting membuka kantor perwakilan bagi sektor usaha yang ingin masuk ke Negeri Kungfu tersebut.
Untuk diketahui, Indonesia bersama Malaysia, yang menguasai 85 persen pasokan minyak sawit global, saat ini tengah mendapat tekanan dari Uni Eropa, yang membatasi penggunaan biodiesel berbasis sawit. Alasannya adalah bahwa minyak sawit di kedua negeri jiran ini dinilai tidak berkelanjutan dan tidak memenuhi standar internasional. (NEDELYA RAMADHANI/m)








