BORNEONEWS, Tamiang Layang - Debit air terus berkurang menyebabkan tinggi permukaan air pada bendungan darurat pada Embung Sirau terus menurun sehingga air baku untuk kebutuhan PDAM Tamiang Layang juga makin sulit.
Untuk mengatasi hal itu, PDAM Tamiang Layang bekerja sama dengan bidang pengairan Dinas Pekerjaan Umum membendung aliran air dengan cara sederhana yakni menggunakan karung-karung yang diisi pasir.
"Tanggul itu untuk menahan aliran air sekaligus menaikkan permukaan air agar pompa dapat menyedot air," kata Direktur PDAM, Hendroyono kepada Borneonews.co.id di Embung Sirau, Selasa 29 Oktober 2019.
Menurut Hendroyono, sebenarnya PDAM sudah mengusulkan perbaikan Embung Sirau tersebut sejak beberapa tahun lalu.
"Untuk perbaikan embung ini sudah kita usulkan tahun 2016, 2017, 2018 dan terakhir tahun 2019. Sudah tiga empat kali kita berkirim surat ke kementerian dan ke balai, ke kepala dinas provinsi. Semua sampai dengan sekarang belum ada realisasi," ungkapnya.
--page
Hendroyono menjelaskan, perbaikan Embung Sirau tidak dapat dianggarkan dari dana APBD Kabupaten Barito Timur karena embung tersebut bukan merupakan aset Pemerintah Kabupaten Barito Timur, melainkan aset Balai Prasarana Pemukiman Wilayah Kalimantan Tengah.
"Gara-gara embung ini tidak bisa menahan air (berfungsi), sehingga kita terpaksa menggunakan pompa intake. Dua kita pasang pompa intake, yang satu 22 KW dan yang satunya 15 KW ," imbuhnya.
Pompa intake adalah pompa penyadap air baku. Secara kontruksi, jika embung tersebut dapat berfungsi dengan baik maka tidak diperlukan pompa intake untuk menyadap air dari Embung Sirau.
"Setiap bulan PDAM terpaksa harus mengeluarkan anggaran Rp 35 juta sampai Rp 40 juta untuk pembayaran listrik," pungkas Hendroyono. (AGUSTINUS BOLE MALO/B-2)








