TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Kepala SMK Jajaka Tamiang Layang, Christina Glory Sondakh mengungkapkan, pihak yayasan sebenarnya ingin mengubah SMK Jajaka menjadi Sekolah Tinggi Kesehatan atau Stikes.

Hal itu untuk menyikapi standar pendidikan yang dibutuhkan oleh dunia kerja terutama untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

"Dulu waktu awal berdirinya sekolah penyerapannya cepat karena sangat dibutuhkan," kata Christina kepada Borneonews.co.id di kantornya. Jumat, 1 November 2019.

Tetapi karena kriteria masuk pegawai, lanjut Christina, terutama PNS harus berijazah minimal Diploma III,  sehingga tamatan SMK terkendala untuk langsung bekerja dan harus kuliah dulu agar bisa bekerja.

Seperti diketahui, untuk penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kabupaten Barito Timur tahun 2019 yang akan dibuka mulai 11 November nanti, pendidikan terendah yang dibutuhkan adalah Diploma III.

--page

"Harapan kami sekolah ini bisa berubah menjadi lebih tinggi cuma terkendala SDM (Sumber Daya Manusia), tenaga pengajar tidak boleh dibantu dari PNS," imbuh Christina.

Lanjutnya, jika diubah jadi Stikes, sekolah yang didirikan pada 2013 tersebut tenaga pengajarnya harus khusus bekerja di sekolah tersebut. Kendala itu yang menyebabkan pengurusan izin untuk mendirikan sekolah tinggi mengalami kendala.

Karena itu, untuk mengatasi masalah penyerapan lulusan SMK Jajaka, Christina berharap Pemkab Barito Timur membantu membuka akses bagi lulusan sekolah tersebut untuk bekerja di perusahaan-perusahaan yang memiliki klinik dan juga di gudang farmasi.

"Sekarang kami fokus untuk peningkatan mutu tamatan SMK Jajaka karena masih bisa dipakai untuk pendidikan lanjut. Beberapa perguruan tinggi masih memprioritaskan lulusan dari sini," imbuhnya.

Saat ini SMK Jajaka memiliki total siswa dari kelas X - XII sejumlah 57 orang dengan tenaga pengajar berjumlah 10 orang.

--page

Selain terus meningkatkan mutu lulusan, pihak sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Prasinin Husada tersebut tetap berupaya menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan di luar Kabupaten Barito Timur seperti perusahaan jamu dan pedagang besar farmasi (PBF) yang ada di Barabai, Palangka Raya dan Banjarmasin agar lulusannya dapat diterima bekerja di sana. (AGUSTINUS BOLE MALO/B-2)