BORNEONEWS, Tamiang Layang - Harga eceran elpiji pada kios-kios di Kota Tamiang Layang mencapai Rp35 ribu per tabung, namun harga eceran tertinggi (HET) di tingkat pangkalan gas elpiji masih tetap Rp 19.500.
"Harga eceran tertinggi di pangkalan tetap 19.500, tidak ada perubahan. Bahkan kami kadang jual di bawah harga eceran tertinggi," kata Hano, yang ditemui Borneonews.co.id di Pangkalan Gas UD Punei Berjaya, Jalan Nansarunai Tamiang Layang.
Ia mengakui, memang ada pengurangan pasokan elpiji 3 kilogram dari agen sejak bulan Juli lalu.
"Sejak bulan Juli kami kami hanya mendapatkan pasokan dua kali dalam satu minggu sebanyak 400 tabung atau 200 tabung sekali pengiriman," imbuhnya.
Karena itu dalam menjual elpiji 3 kilogram, pihaknya melakukan pembatasan. Tiap orang hanya boleh membeli paling banyak 2 tabung dengan syarat membawa Kartu Tanda Penduduk dan mengisi formulir.
--page
Hano juga mengungkapkan, agen tidak memiliki kewenangan untuk mengatur peruntukan gas yang sudah dibeli atau pun mengatur harga jualnya jika hendak dijual lagi.
"Kewenangan kami hanya membatasi penjualan maksimum 2 tabung kepada setiap orang, kami tidak punya hak untuk menanyakan apakah dipakai sendiri atau dijual lagi," paparnya.
Namun ia menduga, salah satu penyebab harga eceran elpiji 3 kilogram mencapai Rp 35 ribu karena sudah berpindah tangan dari pengecer yang satu ke pengecer yang lain.
"Kemungkinan itu sudah tangan ketiga, belinya juga dari pengecer makanya jadi mahal," kata Hano.
Senada dengan Hano, Suniawati yang mengelola pangkalan elpiji di Jalan A Yani mengatakan bahwa harga elpiji 3 kilo gram di pangkalannya tetap Rp19.500.
--page
"Di pangkalan harga tetap Rp 19.500, kami tidak bisa mengubah harga tersebut sekalipun pasokan gas berkurang," kata Suniawati. (AGUSTINUS BOLE MALO/B-2)








