JAKARTA –

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung mengingatkan konsumen untuk mewaspadai diskon palsu saat Hari Belanja Online Nasional atau Harbolnas.

Menurut dia, baik dalam Harbolnas maupun tidak, ada saja pelaku yang memiliki orientasi bisnis pendek dan hanya mementingkan transaksi tinggi.

"Akhirnya, yang terjadi ialah menghalalkan segala cara termasuk diskon palsu. Semisal, ada barang harganya Rp 1 juta, kemudian digelembungkan dulu menjadi Rp 5 juta baru dikasih embel-embel diskon 80 persen menjadi Rp 900 ribu, kan, jadi terlihat wah," ujar Untung di Jakarta, Kamis 7 November 2019.

Harbolnas memang identik diskon besar-besaran yang ditawarkan oleh sejumlah e-commerce di Tanah Air. Namun, praktik culas dalam acara tahunan tersebut masih saja ditemukan dalam bentuk diskon palsu.

Pelakunya tidak lain tidak bukan ialah para pedagang yang memasarkan dagangannya di platform e-commerce. Menurut Untung, praktik ini pernah ditemui idEA secara daring maupun luring.

--page

Jika praktik ini terus berlanjut dikhawatirkan kepercayaan publik pada industri e-commerce di Indonesia yang baru seumur jagung ini akan hancur.

Berangkat dari kekhawatiran ini, idEA akhirnya memutuskan ikut dalam penyelenggaraan Harbolnas 2019 dengan syarat semua peserta e-commerce mesti menandatangani surat komitmen bahwa tidak akan secara sengaja melakukan praktik promosi yang tidak etis.

Namun di sisi lain Untung juga mengakui banyaknya pedagang yang berjualan di platform e-commerce menjadi kendala tersendiri dalam penerapan komitmen tersebut.

"Untuk itu kami akan buat email pengaduan bagi konsumen yang mengalami pengalaman tidak menyenangkan bersama platform," ujarnya.

Setelah proses pengaduan itu idEA akan terlebih dulu mendorong konsumen dan platform untuk menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan. Jika menemui jalan buntu, idEA akan membantu menyelesaikan persoalan tersebut.

--page

Namun jika persoalan itu tak kunjung selesai, idEA bakal merilis daftar nama pedagang beserta platform yang memiliki permasalahan dengan konsumen tersebut ke publik.

"Jika mereka mau coba-coba, silakan saja, tetapi ingat ada hukumannya secara sosial. Sebab, ini merupakan bisnis reputasi, jika reputasinya rusak ya selesai sudah," ucapnya. (TERAS.ID)