BORNEONEWS, Sampit - Bangunan usang berukuran sekitar 4 x 4 meter di Jalan HM Kaspul Anwar, Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan itu sekilas tampak biasa. Dikelilingi permukiman yang sangat layak, gubuk berkonstruksi kayu mulai lapuk itu hanya seakan bangunan tua tak berpenghuni.
Namun siapa sangka, gubuk yang nyaris roboh beratapkan seng serta tak bisa melindungi dari hujan deras dan terik matahari itu ada penghuninya. Adalah seorang nenek berusia hampir satu abad, yang disebutkan warga sekitar dengan nama Nenek Mulia.
Jauh dari kata layak, memprihatinkan, hingga menyedihkan, begitulah gambaran kondisi rumah yang masih berada di kawasan perkotaan Samuda Besar itu. Pandangan kontras dengan rumah yang agak megah di sampingnya.
Ironisnya lagi, semua aktivitas dilakukan Nenek Mulia yang hidup bersama dua anaknya di rumah itu. Bahkan, mereka hanya menikmati bagian kecil di pojok gubuk itu untuk beristirahat atau makan, karena harus berbagi dengan tumpukan barang bekas dan sampah yang memenuhi hampir seisi rumah.
Chaidir, dari komunitas Solidaritas Masyarakat Samuda (SMS) menuturkan, Nenek Mulia hidup bersama dua orang anaknya. Kehidupan mereka pun tak tak selayak manusia normal, karena ada kekurangan.
--page
"Ada dua anaknya, satu orang perempuan tak bisa diajak berkomunikasi karena tuna wicara. Satu lagi laki-laki mengalami gangguan kejiwaan," kata Chaidir.
Penuturan warga sekitar, meski sang anak perempuan memiliki kekurangan, tapi dia masih menunjukkan kasih sayang kepada Nenek Mulia. Setiap harinya, dia selalu mencarikan makan untuk ibunya, meski bermodalkan dari belas kasihan warga.
"Anaknya itu kalau mencari makan dikasih satu tidak mau, pasti minta dua. Karena untuk makan ibunya. Meskipun ada kekurangan, tapi masih menunjukkan kasih sayang," kata Chaidir.
Komunitas SMS pun kini memberikan perhatian untuk kehidupan Nenek Mulia itu. Mereka membantu agar Nenek Mulia bisa merasakan kehidupan yang layak.
Kisah Nenek Mulia ini awalnya tak terdengar hingga daerah lain, jika cerita kehidupannya tidak viral di media sosial berkat kepedulian Kapolsek Jaya Karya. Yang kemudian disambut Kapolres Kotim dengan program Sahabat Dalam Duka Lara atau Saudara.
--page
Sementara itu, Camat Mentaya Hilir Selatan, Syahrial menuturkan, sempat ada kesulitan saat akan memerhatikan kehidupan Nenek Mulia. Karena mereka terhalang anak laki-lakinya, Jubay, yang mengidap gangguan jiwa.
"Memang kondisi ini sudah lama. Tetapi saat kita atau warga mau memberi perhatian atau bantuan, terganggu dengan anaknya yang mengidap gangguan jiwa. Karena saat mendekat ke rumahnya, si anak ini tadi mencoba menyerang siapa yang mendekat. Makanya kami tidak bisa melakukan langkah intervensi," kata Syahrial. (MUHAMMAD HAMIM/B-11)








