INILAHCOM, Jakarta - Sebanyak 124 pelaku usaha dari 14 negara akan meramaikan Glasstech Asia 2019. Pameran produk dan teknologi terkini industri kaca ini, digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, 12-14 November 2019.
Perhelatan yang diselenggarakan oleh Conference & Exhibition Management Services (CEMS) dan Singapore Glass Association (SGA) ini akan dipandu oleh Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) bermitra dengan Royalindo Convention International.
Staf Ahli Menteri Bidang Pendalaman, Penguatan dan Penyebaran Industri Kementrian Perindustrian (Kemenperin), Dody Widodo meresmikan pembukaan pameran kaca tahunan yang digelar sejak 1998.
Acara ini tidak hanya menjadi pusat pertemuan pelaku usaha bersama pakar internasional, tetapi juga memberikan pemahaman luas dalam sektor manufaktur, dan pemrosesan produk berbahan kaca, termasuk berbagai teknologi terkini dan inovasi kaca.
Selama 3 hari acara berlangsung, pelaku usaha juga dapat bertukar informasi mengenai perkembangan terbaru dan tantangan yang dihadapi industri, sembari memanfaatkan pasar Indonesia yang berkembang bersama negara-negara Asia Tenggara lainnya.
--page
Pameran akan diselenggarakan di Hall 5 dan 6 ICE BSD mulai pukul 10.00-18.00 WIB pada 12-13 November, dan pukul 10.00-17.00 WIB pada 14 November.
Pameran di area seluas 10.000 meter persegi ini juga didukung oleh Association of the German Trade Fair Industry (AUMA), Australian Glass and Window Associ-ation (AGGA), Flat Glass Alliance of the Philippines Inc (FGAPI), Glass and Glazing Fed (GGF), Green Building Council Indonesia (GBCI), Malaysia Glass Association (MGA), Malaysian Institute of Architects (PAM), National Glass Association (NGA), Philippine Chamber of Glass & Aluminium Industry Inc (PCGAII), Safety Glass Processors Association of Malaysia (SGPAM), Taipei Glass Commercial Association (TGCA), Taiwan Association of Machinery Industry (TAMI), Thai Plate Glass Industry Association (TPGIA), United Architects of the Philippines Singapore Chapter (UAPSG), and Vietnam Glass Association (VGA).
Menurut laporan Research and Markets 2018, permintaan kaca hemat energi di Indonesia diperkirakan bertumbuh (CAGR) 13,1 persen per tahun pada periode 2019-2025.
Selama periode tersebut, pasar berpotensi meraup penjualan US$106,70 juta pada 2025, atau meningkat dibanding US$50,13 juta pada 2019.
Asia Pasifik diperkirakan masih menjadi pemimpin pasar industri kaca lembaran dengan pangsa pasar 60 persen - 65 persen pada 2014.
--page
Di Asia Pasifik, kaca lembaran banyak digunakan oleh pelaku industri otomotif dan konstruksi.
Namun urbanisasi dan pertumbuhan sektor real estate di negara berkembang seperti Indonesia, India, Vietnam, dan Thailand, juga disebut ikut mendongkrak pasar permintaan kaca lembaran.
Pangsa pasar Asia Pasifik untuk kaca lembaran ditargetkan terus meningkat pada tahun berikutnya, terutama di China, India, dan Asia Tenggara. (inilah.com)








