KUALA PEMBUANG –

BORNEONEWS,Kuala Pembuang -Dinas Lingkungan Hidup atau DLH Kabupaten Seruyan mengakui saat ini populasi kepiting bakau di kawasan pesisir laut Kuala Pembuang, berkurang. Bahkan semakin semakin langka.

Berkurangnya populasi kepiting bakau asal Kuala Pembuang akibat semakin berkurangnya tanaman mangrove yang berada di pesisir pantai. Hal ini karena diduga lantaran pembukaan lahan pertambakan yang tidak berorentasi pada pelestarian lingkungan.

“Pembukaan kawasan pertambakan yang terjadi beberapa waktu lalu, namun tidak mengindahkan aspek lingkungan dengan turut membabat tanaman mangrove sangat memicu berkurangnya polulasi kepiting bakau,” ujar Priyo Widagdo, Jumat, 6 Desember 2019.

Jika dilihat kondisi saat ini, menurut Priyo sangat berbeda jauh di bandingkan waktu dulu. Sebab, saat ini populasi kepiting bakau semakin berkurang. Kemudian memicu naiknya harga jual kepiting karena sudah sangat sulit didapat.

Dalam rangka mengembalikan hutan mangrove, sebagai tempat  hidup kepiting bakau dan beraneka jenis udang dan ikan lainnya, DLH Seruyan terus melakukan sosialisasi terkait proses pelestarian mangrove di pesisir Kuala Pembuang.

“Alhamdulilah saat ini, masyarakat pesisir sudah mulai memahami bagaimana fungsi dari hutan mangrove untuk menjaga ekosistem di pesisir kita, dengan mulai turut serta menanam kembali mangrove,” tambahnya.

Pelestarian hutan mangrove sendiri, lanjut Priyo merupakan program secara nasional, karna keberadaan mangrove wajib diamankan,  dikembangkan bahkan keberadaannya wajib untuk dilindungi. (MAGANG 2/B-7)