PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Bagaimana kalau kita awali tahun baru ini dengan kasih sayang dan kedamaian. Untuk mulai menyemainya, usahlah kita bersoal tentang perbedaan. Melainkan mari sejenak melakukan perenungan reflektif tentang apa yang sudah terjadi kemarin.

Sudah banyak peristiwa yang kita lalui sepanjang tahun 2019 yang lalu. Puncak eskalasinya berada ketika proses demokrasi yang seharusnya dirayakan dengan suka cita namun nyatanya berlangsung sengit dan memecah belah. Kita tidak bisa pura-pura tidak tahu atau lupa bahwa saat itu, berita-berita bohong atau hoax menyebar di mana-mana. Memecah kita menjadi aku dan kamu, kami dan mereka. Kita belum betul-betul dewasa untuk berbeda.

Tulisan ini tidak sedang berbicara tentang perbedaan atau keragaman yang pada dasarnya sudah kita pahami bersama. Tapi, yang menjadi pokok pikiran di sini adalah dalam keragaman tersebut ternyata kita belum betul-betul mengenal satu sama lain. Kita belum benar-benar mengerti bagaimana bhinneka menjadi tunggal ika. Ketidaktahuan inilah yang memecah belah kita.

Mengutip Elias Canetti, tidak ada yang lebih menakutkan bagi manusia daripada persentuhan dengan yang tak dikenal. Dalam proverb Arab yang kerap diulang-ulang para santri juga berbunyi senada, “an-nas a’da-u ma jahilu”. Manusia memiliki kecenderungan untuk mengambil posisi berlawanan terhadap apa yang belum benar-benar ia kenal dan mengerti. Dan kenyataannya demikian, kita belum betul-betul mengerti apa itu perbedaan, mengapa ia terjadi dan untuk apa perbedaan tersebut ada dalam hidup kita?

Al-Ikhtilafu Rahmah. Perbedaan itu adalah rahmat. Dalam sebuah buku berjudul Haqiqat al-Khilaf Bayn al-Mutakallimin yang ditulis oleh Dr. Ali Abd al-Fatah al-Maghribi disebutkan bahwa tidak ada masalah apapun dengan yang disebut ikhtilaf atau perbedaan. Namun sebaliknya, secara linguistik, negatifitas baru akan ditemukan dalam khilaf (perselisihan).

--page

Mengakui Mereka Yang Kurang Sama

F. Budi Hardiman di dalam bukunya, Memahami Negatifitas, menguraikan batasan-batasan perbedaan antara Kita dengan Yang Lain “di antara” Kita. Yakni, antara kita dengan entitas lain di luar diri kita. Secara filosofis, menurutnya ada tiga tipe wujud entitas yang sehari-hari bisa kita temukan dalam kehidupan. Kita, Yang Lain dan Yang Kurang Sama.

Kita, diwakilkan oleh diri kita sebagai individu atau sebuah komunitas yang memiliki kesamaan. Entah itu ras, suku atau agama. Sedangkan Yang Lain adalah entitas lain yang betul-betul berbeda, baik secara dimensi maupun aksiden-aksiden yang menyertainya. Sebut saja, hewan, nabati dan makhluk gaib termasuk juga di dalamnya. Dan terakhir, Yang Kurang Sama. Mereka pada dasarnya termasuk bagian dari Kita. Hanya saja berbeda dalam aspek-aspek tertentu, seperti berbeda tingkat kehidupan, cara pandang, ras, suku atau bahkan agama.

Mereka yang Kurang Sama inilah yang kerap menjadi objek ketakutan kita. Kita kesulitan menemukan benang merah yang dapat menjadi simpul perbedaan tersebut. Kita cenderung enggan untuk terlibat dalam persentuhan-persentuhan dengan mereka. Karenanya, kita terhambat melakukan persentuhan sosial ini karena terlanjur tenggelam dalam stigma yang lahir karena cara berpikir kita sendiri. Kita selalu melihat perbedaan dengan kacamata oposisi biner.

Padahal, kita dan mereka yang Kurang Sama ini merupakan elemen kehidupan dan keseharian. Kita perlu dan harus mencoba untuk bersentuhan secara sosial dengan mereka. Persentuhan-persentuhan ini bisa dilakukan dengan memulai sapaan kepada orang lain yang tidak kita kenal, mengucap permisi ketika melewati gerombolan orang, meminta maaf kepada orang yang kita senggol secara tidak sengaja.

Lewat persentuhan ini, kita bisa mengenali fragmen-fragmen yang lebih intim dari mereka Yang Kurang Sama. Dari sana, kita mulai mengenal dan percaya kepada perbedaan. Kita menjadi paham bahwa bhinneka itu ada. Dan akan menjadi tunggal ika ketika interaksi positif itu terjalin menjadi kita.

--page

Menyemai Kembali Nasionalisme

Dalam sebuah mata kuliah, dosen kami, Profesor Sri Edi Swasono dengan berapi-api berbicara tentang modal sosial dan nasionalisme. Menurut beliau, permasalahan pelik yang kita hadapi sebagai sebuah bangsa adalah krisis modal sosial dan rasa nasionalisme. Kedua hal inilah yang menurut beliau menjadi biang kerok dari segala macam negatifitas yang ada dalam bangsa ini.

Kita belum betul-betul bangga sebagai sebuah negara besar yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, Miangas sampai Tidore. Atau kita belum bisa memahami bahwa kita sebagai sebuah bangsa, dilahirkan berbeda untuk menjadi satu. Indonesia. Kebanggaan inilah yang menjadi modal sosial kita untuk bisa bersaing. Dan itu sudah pernah dibuktikan oleh sejarah kemerdekaan bangsa kita.

Beliau lantas mengkonstruksikan bagaimana sebuah modal sosial berpengaruh besar terhadap mentalitas sebuah bangsa dalam menghadapi tantangan kemajuan dan kehidupan. Di Amerika sendiri, lahir sebuah proverb yang berbunyi “Today ... the sun never sets on American territory, pr properties owned by the U.S. government and its citizens”.  Saat ini, matahari takkan pernah terbenam di wilayah Amerika, atau wilayah yang dimiliki pemerintah Amerika dan warganya. Kebanggaan seperti ini yang mulai hilang dari diri bangsa kita. Mungkin, suatu saat nanti anak cucu kita bisa saja melupakan modal sosial yang terpatri dalam pepatah-pepatah seperti “Isen Mulang, Habaring Hurung, Iya Mulik Bengkang Turan, Habangkalan Penyang Karuhei”.

Di akhir perkuliahan, Prof. Edi lalu mengutip ungkapan Ho Chi Minh, “Our secret weapon is nationalism. To have nationhood, which is a sign of maturity, is greater than any weapons in the world”. Senjata rahasia sebuah bangsa adalah nasionalisme yang memiliki dampak lebih dahsyat ketimbang senjata lain yang ada di muka bumi.

--page

Mari kita sambut tahun baru ini dengan semangat kasih sayang dan perdamaian. Anda bisa saja berbeda pandangan dengan apa yang saya sampaikan. Namun, bagaimana pun juga, saya tidak bisa mengelakkan bahwa dengan memahami bahasa yang saya gunakan dalam tulisan ini, anda adalah bagian dari kita.

(Penulis : Muhammad Irfan Wahid, Dosen IAIN Palangka Raya)