PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun -  Setiap musim durian, masyarakat Dayak yang bermukim di Kecamatan Arut Utara (Aruta) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) masih melakukam tradisi nyandau atau panen besama buah yang dijuluki King of Fruit ini.

Sebagai bentuk penghormatan terjadap tradisi tersebut Bupati Kobar Nurhidayah dan suami H. M Ruslan AS bersama rombongan Satuan Organisasi Pimpinan Daerah (SOPD) menggelar gathering dan nyandau durian di Camp Harapan wilayah Bukit Balang Desa Riam, Kecamatan Aruta, Jumat, 10 Januari malam hingga Sabtu, 11 Januari 2020 pagi.

Menurut bupati, kegiatan nyandau durian juga sekaligus merupakan wadah dirinya dan para SOPD untuk bersilaturahmi dengan warga Desa Riam dan Panahan.

"Kegiatan nyandau durian merupakan salah satu potensi yang bisa dikembangkan sebagai ini salah satu program wisata. Karena di Kacamatan Aruta berpotensi untuk dilakukan pengembangan tanaman hutan varietas lokal seperti durian, kerantungan, pampaan dan buah hutan lainnya," jelasnya.

Selain itu dari ketinggian Bukit Balang ini sekitar 2.000 mdpl merupakan sensasi tersendiri pada penggemar wisata alam bebas.

--page

"Harapannya lokasi ini nantinya menjadi salah satu objek wisata baru yang busa dikembangkan, dengan kegiatan unggulan yaitu nyandau durian bersama masyarakat Kecamatan Aruta," ujarnya.

Kepada masyarakat Aruta, bupati berpesan agar menjaga potensi yang ada ini, jangan sampai hutan tersebut beralih fungsi. 

"Bila perlu, pohon durian yang berusia ratusan tahun ini bisa direplanting dengan pohon yang baru. Karena hanya ini yang masih tersisa dan menjadi sejarah untuk anak cucu kita generasi yang akan datang," jelasnya.

Sehingga generasi yang akan datang mengetahui bahwa buah durian lokal kita tidak kalah dengan buah di tempat yang lain.

"Bila hutan ini sudah beralih fungsi, mungkin generasi berikutnya tidak akan bisa menikmati durian asli pohon usia ratusan tahun," jelasnya.

--page

Diketahui, rombongan Bupati Kobar berangkat dari Kota Pangkalan Bun menuju Camp Harapan Desa Riam hingga tiba di wilayah Bukit Balang menggunakan mobil double cabin melintasi jalan menanjak dan licin.

Setelah itu rombongan berjalan kaki melintasi jalan setapak menanjak menuju Bukit Balang sekitar 500 meter menuju pohon durian.

Dalam kegiatan nyandau ini rombongan juga mendapatkan buah lainnya seperti kerantungan yajh bentuknya mirip durian, tapi bobotnya lebih kecil. Rasa buahnya manis, namun isinya lebih sedikit sekitar 1 - 3 biji saja.

Kegiatan nyandau durian  ini bukan secara langsung memetik dari pohonnya. Rombongan harus menunggu durian jatuh, kemudian dikumpulkan lalu dijual kepada pengepul untuk kemudian dijual kembali ke kota Pangkalan Bun.

Berdasarkan penuturan warga, harganya bervariasi antara Rp 5 ribu hingga Rp 20 ribu per buah tergantung ukuran. Pembeli yang datang ketemlat tersebut juga bisa memborong  durian tersebut dengan harga yang relatif murah. (WAHYU KRIDA/B-6)