SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Besarnya biaya pembangunan Jembatan Mentaya yang menghubungkan antara Kota Sampit dan Kecamatan Seranau, tidak bisa hanya menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Namun harus ada sharing dana dari provinsi, pusat, atau bahkan luar negeri.

"Kalau hanya menggunakan dana dari APBD makan tidak akan mampu, namun kami berupaya untuk dapat dana sharing dari Provinsi Kalteng, pusat, dan bahkan luar negeri," ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kotawaringin Timur (Kotim) Machmoer, Senin, 3 Januari 2020.

Dia menyampaikan bahwa yang dibutuhkan untuk membangun jembatan tersebut sekitar Rp 1,050 triliun. Dana itu untuk membangun jembatan selebar 14 meter dan panjang 970 meter.

Besarnya dana tersebut tidak akan mampu hanya menggunakan dana APBD. Sehingga, untuk tahap awal, mereka hanya akan membangun pondasi dengan dana Rp 20 miliar.

"Mudah-mudahan pondasi tersebut bisa dibangun pada 2021 mendatang," kata Machmoer.

--page

Dirinya berharap, dengan adanya pembangunan awal tersebut, bisa dilihat oleh pemerintah provinsi dan pusat agar dapat ditindaklanjuti. Sehingga, masyarakat di Seranau nantinya bisa menikmati akses ke perkotaan.

Selain itu, jembatan tersebut juga diharapkan bisa membawa dampak baik terhadap prekonomian masyarakat di daerah itu. Begitu juga dengan pembangunan nantinya. (MUHAMMAD HAMIM/B-7)