BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Lebih dari 700 tamu undangan yang terdiri dari tokoh adat, agama, akademisi, mahasiswa dan organisasi kepemudaan hadir dalam acara silaturahmi yang digelar Gubernur Kalteng Sugianto Sabran di kediaman pengusaha masional asal Kalteng yaitu H Abdul Rasyid AS, Sabtu, 15 Februari 2020.
Setelah dibuka oleh pembawa acara, H Abdul Rasyid AS diminta untuk memberikan sambutan dan cerita mengenai kehidupannya hingga bisa mencapai keberhasilan seperti saat ini, sebagai motivasi generasi muda untuk membangun Kalteng lebih maju dalam segi SDM dan perekonomian.
"Mohon maaf acara ini sengaja dibuat sesederhana mungkin. Lantaran saya mengundang tokoh-tokoh ini dengan tujuan silaturahmi. Jadi suasana seperti ini sengaja dibuat, seperti suasana kita masyarakat Dayak yang penuh keakraban dan kehangatan," ujar H. Abdul Rasyid AS.
Kemudian H. Abdul Rasyid AS menceritakan perjuangan kehidupannya.
"Sekitar usia 14 tahun saya merantau dari kampung halaman di Pembuang Hulu, ke Pangkalan Bun Kabupaten Kobar. Berbagai hal sudah dirasakan, mulai bekerja menjadi tukang kupas kayu hingga menjadi juru chainsaw," jelas H.Abdul Rasyid AS.
--page
H Abdul Rasyid AS mengatakan ini sebagai upayanya meningkatkan taraf kehidupannya.
"Namun lama kelamaan saya berfikir, kenapa kita selaku orang Dayak dari pedalaman hidup menderita seperti ini. Artinya saya harus berubah dan saya bertekad menjadi pengusaha," jelas H. Abdul Rasyid AS.
Namun, lanjut H. Abdul Rasyid AS beberapa waktu ini ia merasa risau dikarenakan suatu hal.
"Beberapa waktu lalu, ada sekelompok orang mengaku lebih Dayak dari orang Dayak sendiri dan malahan mendemo saudaranya sendiri yang orang Dayak," jelasnya.
Padahal, menurut H. Abdul Rasyid AS, ia merasa kenapa dirinya senagai orang Kalteng malahan selalu digangu oleh beberapa oknum yang terhitung masih saudara sendiri sebagai orang Kalteng.
--page
"Bila berkaca dari pengalaman terdahulu, sebelumnya HPH di Kalteng semuanya milik orang luar. Nah kenapa saya yang berusaha di tanah kelahiran saya sendiri selalu diganggu.Demikian juga saat ini saat saya berusaha dalam bidang perkebunan. Hal itu masih saja terjadi," jelas H.Abduk Rasyid AS.
Padahal, lanjutnya, bila kita sesama orang Dayak Kalteng sendiri saling sikut dan menjatuhkan, maka orang luarlah yang akan memgambil kesempatan untuk menguasai berbagai hal di Kalteng.
"Tadi saya sempat berdiskusi dengan bernagai akademisi. Saat ini sekitar 50 professor sudah ada di Kalteng dan 300 lebih yang bergelar doktor. Namun, kenapa sedikit sekali orang Dayak Kalteng menjadi yang menjadi pengusaha?" jelasnya.
Padahal, menurut H. Abdul Rasyid AS, bila kita sebagai orang Dayak banyak yang menjadi pengusaha, maka perekonomian bakal dikuasai oleh Dayak sendiri.
"Artinya bila kita berkelahi antar sesama sendiri, kenapa kita tidak saling dukung agar sesama kita selaku orang asli Kalteng agar menjadi penguasa perekonomian, paling tidak ditanah kelahiran kita sendiri," jelas H.Abdul Rasyid AS. (TIM BORNEONEWS/m)








