TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Petani di Kabupaten Barito Timur terus berkreasi untuk menggarap peluang budidaya aneka komoditas hortikultura sehingga tidak hanya bergantung pada satu komoditas tertentu.

Salah satu petani yang melakukan ini yaitu Jaterli, warga Desa Ipu Mea Kecamatan Karusen Janang, Dia mulai melirik peluang budidaya labu kuning (cucubita moschata durch) atau biasa dikenal dengan sebutan waluh.

Jaterli mulai menanam waluh untuk pertama kali 3 bulan yang lalu di lahan yang luasnya tidak sampai 1 hektare.

"Baru kali ini saya tanam, ada sekitar 250 pokok, tiap pokok waluh menghasilkan buah rata-rata 4 buah, jadi hasil panen ini sekitar 800 buah" kata Jaterli saat ditemui di rumahnya RT 02 Desa Ipu Mea.

Menurutnya, walau baru pertama kali mencoba budidaya waluh, namun tidak ada kendala berarti dalam merawat tanaman ini.

--page

Sebabnya dia berencana untuk menanam lagi pada bulan September nanti bergantian dengan tanaman jagung.

Kendala yang dihadapi Jaterli saat ini adalah bagaimana menjual hasil panennya karena belum memiliki jaringan pemasaran untuk hasil sebanyak itu.

"Peluang pasar di Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah cukup bagus, harga bisa Rp 20 ribu sampai 30 ribu per buah, tapi sekarang lagi banjir di sana jadi belum bisa menjual ke sana, " keluhnya.

Dia berharap dengan ditekuninya budidaya waluh ini, ada pengepul atau tengkulak yang rutin menampung hasil panennya sehingga bisa fokus pada usaha budidaya.

Jika dihitung dari hasil panen, peluang budidaya waluh cukup menjanjikan, dengan harga jual rata-rata Rp12.500 per buah dengan berat sekitar 4 kilo gram yang ditawarkan Jaterli saat ini, paling kurang dia meraih omset Rp10 juta dari penjualan waluh sebanyak 800 buah. Ada yang mau? (BOLE MALO/B-6)