JAKARTA –

TEMPO.CO, Jakarta - Setelah Presiden Donald Trump melarang pesawat dari Eropa masuk ke wilayah Amerika Serikat, bursa saham global dilanda kepanikan. Kepanikan itu bahkan menjalar sampai ke Indonesia dan memaksa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup 30 menit lebih cepat pada pukul 15.33 kemarin, Kamis 12 Maret 2020, karena sudah longsor 5 persen ke level 4.895.

Direktur PT Anugrah Mega Investama Hans Kwee menyebut IHSG anjlok akibat kepanikan investor terhadap virus corona. Ketakutan akan virus corona itu semakin menjadi-jadi setelah Negeri Paman Sam mengumumkan larangan perjakanan dati dan menuju Eropa.

“Market turun karena larangan travel dari Amerika Serikat yang disebabkan penyebaran virus. Hal ini tentu saja akan berdampak pada perekonomian. Penyebaran virus corona di luar Cina mulai masif dan membuat WHO mengumumkan ini sebagai pendemi,” kata Hans kepada Bisnis.com pada Kamis.

Selain itu, terdapat kasus meninggalnya pasien korona dalam negeri yang juga ikut menekan laju IHSG ke level 4.895. Hans mengatakan sentimen positif saat ini hanyalah pelonggaran pungutan pajak dan aksi buyback yang bakal dilakukan oleh sejumlah emiten.

Dilansir dari Bloomberg, Presiden AS Donald Trump telah memberlakukan pembatasan perjalanan dari Eropa selama 30 hari ke depan. Langkah ini merupakan upaya pemerintah AS untuk menahan penyebaran virus corona.

Akibatnya, bursa saham Amerika Serikat berakhir anjlok, dengan indeks Dow Jones merosot hingga 10 persen. Pasar terpuruk di tengah aksi jual terbesar sejak peristiwa Black Monday tahun 1987 silam. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup anjlok 9,99 persen atau 2.352,6 poin ke level 21.200,62, setelah dibuka melemah 5,81 persen atau 1.368,51 poin ke level 22.184,71.

--page

Tak jauh berbeda, indeks S&P 500 ditutup anjlok 9,51 persen atau 269,74 poin ke level 2.480,64 setelah dibuka melemah 4,03 persen. Sementara indeks Nasdaq Composite melemah 9,43 persen atau 750,25 poin ke posisi 7.201,80.

S&P 500 anjlok 27 persen di bawah rekor yang dicapai tiga pekan lalu dan menghapus semua penguatan sejak akhir 2018. Di Eropa, indeks Stoxx Europe 600 mencatat pelemahan terburuk dalam sejarah.

Ibovespa Brasil jatuh sebanyak 20 persen, memperpanjang kerugian tahun ini hingga hampir 50 persen. Adapun indeks utama Kanada turun lebih dari 12 persen, hari terburuk sejak 1940.

Dikutip dari Bloomberg, kekhawatiran investor meningkat karena membesarnya kemungkinan bahwa virus corona (Covid-19) akan menjerumuskan ekonomi global ke dalam resesi. Perdagangan Kamis telah menggambarkan bagaimana pukulan dari Covid-19 dan dan perang harga minyak menghancurkan prospek pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia.

(TERAS.ID)