BORNEONEWS, Sampit - Anggota Komisi II DPRD Kotim M Arsyad menyebutkan warga di sekitar perusahaan perkebunan masih banyak yang jadi penonton.
Akibatnya mereka menjadi pengangguran. Bahkan untuk menjadi karyawan perusahaan disekitarnya kerap menuai permasalahan karena kesulitan untuk masuk atau diterima.
"Kunjungan saya ke lapangan dalam masa reses lalu perusahaan di sekitar desa masih belum memperhatikan warga di sekitarnya,' kata Arsyad, Minggu, 15 Maret 2020.
Menurut Arsyad untuk pemberdayaan tenaga kerja lokal masih diabaikan oleh perusahaan setempat. Padahal payung hukum untuk itu sudah jelas.
Arsyad mengakui sangat prihatin melihat kondisi masyarakat tersebut. Seharusnya kondisi demikian tidak perlu terjadi jika para perusahaan tersebut punya komitmen dan konsisten untuk turut serta mensejahterakan masyarakat.
--page
Menurutnya ini yang jadi tugas dan tanggung jawab pemerintah daerah, bagaimana agar mereka yang menganggur itu bisa dipekerjakan oleh perusahaan disekitarnya sesuai dengan kemampuan dan keahlian masyarakat disekitarnya
Arsyad menginginkan agar investasi di daerah itu juga memiliki kepedulian untuk melibatkan masyarakat disekitarnya. Karena dengan begitu, dirinya yakin akan muncul ikatan emosional antara dunia usaha dan masyarakatnya.
"Makanya selalu ada konflik dengan masyarakat karena masih kurangnya melibatkan warga disekitar dalam usaha itu," tandasnya. (NACO/B-5)








