BORNEONEWS, Sampit - Anggota Komisi IV DPRD Kotawaringin Timur Bima Santoso menyayangkan tidak ada ketegasan dari Pemkab Kotim.
Di satu sisi warga setempat diminta berdiam di rumah tapi di sisi lain masyarakat dari zona merah dibiarkan masuk ke daerah ini.
Dari data setidaknya sejak 1-19 April 2020 ada sekitar 1.402 warga dari zona merah masuk ke Kotim melalui Bandara H Asan Sampit.
"Jujur, secara pribadi saya ikut prihatin dengan kondisi Kotim yang sekarang mewabahnya Covid-19. Apalgi Kotim sekarang sudahbmasuk zona merah sama dengan daerah di pulau Jawa," kata Bima Santoso, di Sampit, Senin, 20 April 2020.
Apalagi, kata dia, melihat masih lancar penerbangan dari dan luar Kotim, tentu itu sangat berdampak dengan kondisi seperti sekarang ini.
--page
"Kalau saya berharap sudah harus ada pembatasan keluar masuk orang datang dan pergi, jika tidak kondisi kita sulit akan stabil," tegasnya.
Di sisi lain juga Bima Santoso melihat ini terjadi akibat masih lancarnya penerbangan karena di Surabaya dan Jakarta belum juga melakukan pembatasan penumpang.
"Karena yang bisa melakukan penutupan hanya dari Kemenhub pusat," tegasnya.
Selain itu, kata dia, jika bandara masih buka perlunya ketegasan gugus tugas Covid-19 Pemkab Kotim. Mulai dari mengambil sampel darah penumpang hingga mengarantina atau isolasi bagi yang baru datang.
"Dari situ nanti ketahuan, kalau banyak positif kita harus berlakukan satu pintu agar jangan meluas. Namun demikian harapan saya semoga wabah ini cepat berlalu dan apalagi warga muslim akan segera mnyambut bulan suci Ramadan dan lebaran Idul Fitri," tandasnya.(NACO/m)








