BORNEONEWS, Nanga Bulik - 10 dari 12 santri asal Kabupaten Lamandau yang baru mudik dari salah satu pondok pesantren di Temboro, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur telah ikuti rapid test corona, Rabu 22 April 2020.
Rapid test dipusatkan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) area Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) kabupaten Lamandau, Komplek Perkantoran Bukit Hibul.
"Mereka baru pulang dari pondok pesantren di Temboro dan sudah mengikuti rapid test yang diadakan pemkab Lamandau hari ini," ungkap Bupati Hendra Lesmana.
Bupati yang juga Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menyebut, rapid tes yang dilakukan merupakan salahsatu langkah antisipasi dini dalam mencegah penyebaran Covid-19 dari warga yang memiliki riwayat perjalanan dari zona merah.
Kepala Bidang Pencegahan dan Penindakan Penyakit (Kabid P2P) Dinkes Lamandau, Ahmad Alfian mengungkapkan ada 10 santri yang telah menjalani rapid test. Sepuluh orang tersebut berasal dari Kecamatan Bulik dan Sematu Jaya.
--page
"Total ada 10 santriwan dan santriwati yang telah mengikuti rapid test. Mereka berasal dari dua kecamatan, delapan orang dari kecamatan Bulik dan dua lainnya dari kecamatan Sematu Jaya," katanya.
Ke 10 orang yang mengikuti rapid test itu berusia sekitar 16-20 tahun. Mereka baru tiba di Lamandau sekira tanggal 16-17 April 2020 lalu. Sebelum diambil tindakan rapid test hari ini mereka menjalani isolasi secara mandiri.
Tindakan khusus bagi santri asal Lamandau yang baru pulang dari Temboro, Magetan, Jawa Timur itu tidak terlepas dari Temboro yang telah menjadi klaster baru dalam penyebaran Covid-19 bersamaan dengan adanya informasi bahwa 43 santri Temboro asal negeri jiran Malaysia terkonfirmasi positif Covid-19 sepulangnya dari pondok pesantren tersebut.
Diketahui, sejauh ini tercatat ada 12 orang santri asal Lamandau yang baru tiba dari Jawa Timur itu. Selain dijadwalkan untuk rapid test hari ini.
Pemkab Lamandau juga telah berencana untuk mendaftarkan mereka melakukan pengambilan sampel swab di Pangkalan Bun untuk kemudian diuji di laboratorium Surabaya. (HENDI NURFALAH/B-6)








