PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Saat ini Indonesia sedang mengalami pandemi Covid-19 yang membuat tenaga kesehatan kewalahan menangani banyaknya pasien, Saat pemerintah membutuhkan banyak dokter, Kartini masa kini ini justru harus gagal menjadi dokter meskipun sudah diwisuda dan telah mendapat gelar sarjana kedokteran.

Di adalah Novella Putri Whanda. Ia menuliskan kisah sedihnya di akun media sosial yang sudah dibagikan sebanyak 37 kali di Facebook dan dikomentari hingga 78 komentar.

Saat dikonfirmasi Borneonews via Whatsapp, Novella mengaku bahwa perjuangannya saat ini dianggapnya sebagai bagian dari pemenuhan cita-cita dan harapan yang sudah dimilikinya sejak lama. 

Berikut Borneonews kutip isi postingan Novella.


"Jika Pahlawan RA Kartini berjuang atas nama Perempuan Indonesia, dan saya seorang perempuan Indonesia saat ini masih berjuang demi cita2 saya menjadi seorang dokter.

Izinkan saya menceritakan perjalanan menjadi seorang dokter yang "masih tertunda"

Benar adanya saya seorang perempuan dari sebuah kampung kecil di tanah Rokan Hulu - RIAU yang terlahir dari keluarga yang kurang beruntung dalam ekonomi. Tp InshaAllah saya selalu bersyukur akan keadaan tersebut, Alhamdulillah.

Melalui perlombaan Pidato mimpi itu dimulai.

Ya, saya terpilih mewakili sekolah saya saat di bangku SMA dalam ajang lomba pidato tingkat Kabupaten (Juara 1), Provinsi (Juara 1) hingga menjuarai nya di tingkat Nasional se - Indonesia saat itu (Juara 1).

Buah dari keberhasilan tersebut ada penawaran yang ditawarkan oleh Pemerintah Daerah saat itu melalui Bupati langsung untuk diberikannya Beasiswa kepada saya dalam melanjutkan perkuliahan di Fakultas Kedokteran.

Seakan impian dan cita2 itu Allah bukakan jalan dengan Skenario terindah-Nya. Bukan tanpa pertimbangan, namun saya menyakinkan kembali apakah benar itu saya dapatkan, karena jika nantinya terputus ditengah jalan tentunya kehidupan perekonomian keluarga yang secukupnya ini tidak akan mampu melanjutkan hingga tuntas.

Namun, Bupati saat itu Bapak Achmad meyakinkan bahwasanya semua akan difasilitasi kelangsungan hidup saya selama mengemban perkuliahan di Fakultas Kedokteran tersebut hingga nantinya menjadi dokter, mulai dari biaya pendidikan hingga biaya penunjang lainnya (kosan2, buku dan uang saku)

Tak ada sedikit keraguan lagi yang muncul dan saya menerimanya dengan rasa syukur yang amat, Alhamdulillah. Terimakasih pak, bapak mengabulkan mimpi saya untuk bisa berkuliah di Fakultas Kedokteran.
Baik pak saya SANGAT MAU, saya mau jadi dokter pak. begitu celoteh saya saat itu.

Singkat cerita, BENAR saya menjadi mahasiswa kedokteran di salah satu kampus swasta di Jakarta (FK Trisakti) terhitung tahun 2014.
7 semester selama perkuliahan saya lewatkan hingga saatnya saya akan diwisuda sebagai Sarjana Kedokteran.

Menjelang prosesi tersebut saya dipanggil untuk menemui Dekan Fakultas Kedokteran kampus saya. Dan ternyata saya belum bisa diwisuda jika biaya pendidikan saya belum dilunasi. mengetahui hal tersebut rasanya sedih dan campur aduk, disaat semua tmn2 sibuk mempersiapkan hari istimewa utk menjadi wisudawan dan wisudawati, saya terus mencoba berbagai cara agar ttp bisa diwisuda.

Ternyata selama ini pihak Pemda Rokan Hulu - RIAU saya memberikan surat penangguhan biaya pendidikan saya dan terhitung hutang sampai saat saya akan diwisuda.

Dengan tetesan air mata saya memohon kepada pihak kampus melalui Dekan Fakultas Kedokteran dan jajarannya agar saya bisa wisuda. Saya mau berikan kabar baik ini kepada kedua orang tua dan adik2 saya di kampung halaman.
Karena setelah wisuda dan melanjutkan pendidikan profesi dokter (Koas), sebentar lagi saya akan jadi dokter, sebentar lagi cita2 saya akan tercapai dan saya akan banggakan orang2 yang selalu mensupport saya selama ini.

Lagi dan lagi Allah Subhanahu Wata'ala mudahkan dan akhirnya ada gelar sarjana kedokteran dibelakang nama saya setelah berkuliah 3,5tahun lamanya (tujuh semester). Saya diperbolehkan untuk wisuda dan lanjutkan pendidikan koas saya,
Namun "hutang" itu ttp wajib dilunasi ujar pihak kampus kepada saya.

Segala upaya saya kerahkan selama sejak dimasa perkuliahan hingga Co-asst untuk mengingatkan pihak Pemda Rokan Hulu - RIAU agar menyelesaikan kewajiban pembayaran biaya kuliah saya tersebut. Namun hasilnya NIHIL.

Berjalan 2 semester(1 tahun) saya menjadi koas, akhirnya tidak ada toleransi lagi untuk saya dari pihak kampus untuk bisa melanjutkan jenjang pendidikan saya dan saya harus BERHENTI dari koas yang sedang berjalan, hingga permasalahan "Hutang" tersebut diselesaikan.

Benar adanya kekhawatiran yg saya takutkan saat penawaran itu diberikan kepada saya, dan terjadi NYATA dalam perjalanan perjuangan saya untuk menjadi dokter.

Sedih? Pasti!
Karena mimpi saya untuk menjadi dokter belum tercapai. Tapi hingga berada di titik ini saya masih bersyukur dan terus mendoakan siapapun yang sudah berperan dalam proses pencapaian saya menjadi dokter, terutama orang tua saya yang selalu mendukung sejak dari awal. Terimakasih ayah, terimakasih omak dan ketiga adik saya.
Maaf saat ini saya harus bersabar dan terus bersabar untuk mimpi yang ada. Menjadi seorang dokter. (Mencoba terus menyakinkan bahwa skenario Allah akan selalu yang terbaik)

Sudah 1 tahun lebih (sejak diberhentikan dari Co-asst) segala upaya saya lakukan, namun buntu dan tidak ada titik terang mengenai kejelasan kelanjutan pendidikan profesi dokter saya.

Siapapun yang membaca tulisan saya ini, mohon keridhoan nya agar bisa mendoakan saya, agar Allah Subhanahu Wata'ala mudahkan saya untuk bisa menjadi seorang dokter nantinya.

Terimakasih kalimat inspiratif mu Pahlawanku RA Kartini.
" Teruslah bermimpi, bermimpi lah terus, selama engkau dapat bermimpi. Bila tiada bermimpi apakah jadi nya hidup!"
" Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba, jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang.

Ya , saya akan terus bermimpi !!!
Ya, saya akan dan Menang !!!

Selamat Hari Kartini

Stay safe and Healthy
Semoga Bumi Pertiwi pulih dari Covid-19
Aammiin

-Novella Putri Whanda. S. Ked.-

(TESTI PRISCILLA/m)