SAMPIT –

PADA saat tulisan ini dibuat, gelombang wabah penyakit covid-19 terasa kian menerpa Kotawaringin Timur, dengan penambahan 1 penderita yang meninggal dan terkonfirmasi positif SARS-Cov-2. Penambahan kematian tersebut berdampak 5 tenaga Dokter dan 12 tenaga Keperawatan RSUD dr. Murjani Sampit, harus menjalani Isolasi karena kontak langsung dengan penderita tersebut, yang pada pemeriksaan rapid test menunjukan hasil reaktif.

Tindakan yang sama juga dilakukan RSUD Kuala Pembuang, sebagai institusi pelayanan kesehatan yang merujuk pasien tersebut,  dengan mengisolasi 24 Tenaga Dokter dan Keperawatannya. Situasi ini tentunya memberikan implikasi yang serius pada seluruh sendi kehidupan masyarakat, yang ditakdirkan sebagai makluk sosial dengan salah satu karakteristik interaksi diantara mereka.

Menilik alternatif langkah penanggulangan penyakit coid-19 di suatu wilayah,  dianalogikan oleh beberapa ahli dalam 3 kelompok yakni storm in a tea-cup (badai dalam cangkir teh), house on fire (rumah terbakar) dan holding back the tide (menahan arus). Storm in a tea-cup dilakukan berdasar herd immunity (Kekebalan Kelompok),  dengan asumsi penyakit covid-19 akan terkendali bila sebagian besar masyarakat telah terpapar dan timbul kekebalan terhadap Virus SARS-COV-2.

Dengan mengingat angka reproduksi virus ini sebesar 2,5-3 (1 orang yang positif, dapat menularkan pada 2,5-3 orang yang rentan) dengan waktu penggadaan sekitar 5 hari, maka  virus ini akan menyebar dengan cepat. Prof. Willem van Schaik (Universitas Birmingham) mengatakan kekebalan kelompok dapat tercapai bila 60% populasi telah terpapar dan timbul kekebalan. Bila jumlah penduduk Kotawaringin Timur 450ribu jiwa maka agar covoid-19 dapat terkendali bila 273.ribu jiwa telah terpapar dan timbul kekebalan.

Jumlah yang besar ini tentunya akan menjadi beban yang cukup besar bagi RSUD dr.Murjani sebagai salah satu rumah sakit rujukan di Kalimantan Tengah, walaupun sekitar 80% (234 ribu lebih) penderita tanpa gejala atau dengan gejala ringan. Pilihan langkah penanggulangan ini memang memrlukanm waktu lebih singkat, tetapi tidak manusiawi, kerena beban yang besar dalam waktu yang hampir bersamaan tidak sebanding dengan kapasitas RSUD dr.Murjani dalam memberikan pelayanan yang prima.

--page

Kondisi ini semakin ironis bila mengingat 13,5% penduduk berusia diatas 50 tahun, yang resikonya jauh lebih tinggi dibanding yang berusia dibawah 50 Tahun.  Herd immunity layak dipergunakan bila vaksin untuk covid-19 telah ada, sehingga kekeballan dapat dicapai dengan imunisasi masal, seperti pada penyakit campak.

Konsep berikutnya adalah penaganan house on fire (rumah terbakar), dengan menerapkan cordon sanitaire (lock-down) atau pembatasan mobilitas masyarakat di sebuah wilayah secara total, dimana masyarakat tidak bisa masuk keluar wilayah tersebut. Metode penanganan seperti ini, efektif bila dilakukan pada awal pandemi. Dengan SARS-CoV-2 telah menyebar secara luas, metode ini dipandang kurang efektif, apalagi bila mengingat banyaknya kasus dengan gejala ringan, tidak spesifik dan bahkan tanpa gejala, tetapi berpotensi sebagai sumber penularan.

Skenario yang terakhir adalah holding back the tide (menahan arus), dengan mengkombinasikan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang diarahkan untuk menurunkan angka penularan (R) kurang dari 1. Upaya kesehatan perorangan diarahkan untuk memberikan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang baik, demi menekan angka kematian, kecacatan dan mempercepat pemulihan kesehatan pasien covid-19. Upaya ini antara lain meningkatkan kompetensi para pemberi pelayanan (Dokter, Perawat, Laboratorium, penunjang non-medis, dll), mencukupi peralatan medis (misalnya ventilator, bedside monitor, dll), alat dan bahan medis habis pakai (termasuk didalamnya Alat Pelindung Diri/APD).

Upaya kesehatan masyarakat, yang juga dikenal sebagai Non-pharmaceutical Interventions (NPIs) ditujukan untuk menekan serendah mungkin angka kesakitan dengan mengendalikan penyebaran virus, sehingga tidak terjadi peningkatan jumlah pasien melebihi kapasitas rumah sakit. Upaya ini dilakukan, seraya menunggu ditemukan dan dipergunakannya vaksin atau obat-obatan yang dapat mencegah penularan penyakit. Upaya kesehatan masyarakat terdiri dari 4 kelompok kegiatan, yaitu mitigasi, supresi, intervensi pola perilaku masyarakat dan intervensi lingkungan.

Mitigasi adalah tindakan yang berfokus pada memperlambat penyebaran virus (tidak dapat menghentikan) dan menhindar kebutuhan pelayanan kesehatan yang tinggi, seraya melindungi mereka yang paling berisiko mengalami penyakit parah dari infeksi. Manifestasi mitigasi pada covid-19 berupa pelancakan kontak, yang meliputi penemuan mereka yang pernah kontak dekat dengan penderita dan mereka yang datang dari area terjangkit covid-19 (contact tracing).

--page

Selanjutnya kontak yang terlacak dilakukan pemeriksaan untuk menemukan virus SAR-CoV-2 dalam tubuhnya dan apabila dinyatakan terkonfirmasi maka dilakukan isolasi sampai tidak ditemukan virus dalam 2 kali pemeriksaan berikutnya (termasuk mereka yang dengan gejala penyakit). Efektivitas upaya mitigasi sangat ditentukan oleh kejujuran masyarakat dalam mengungkapkan riwayat kontak dan riwayat perjalanannya, keakuratan pemeriksaan yang dilakukan dan kedisiplinan mereka yang terkonfirmasi positif dalam menjalankan isolasi.

Kejujuran dalam mengungkapkan riwayat kontak dekat dengan penderita yang terkonfirmasi positif virus SARS-COV-2 dan riwayat perjalanan pada daerah yang telah ditetapkan terjangkit covid-19 sangat penting, mengingat keterbatasan kemampuan pemeriksaan. Kejujuran semakin terasa bermakna bila mengingat sebagian besar mereka yang mengidap virus ini tidak menunjukan adanya gejala dalam tubuhnya (asymptomatic), dalam masa inkubasi yang belum menunjukan gejala penyakit (presymptomatik) atau menunjukan gejala ringan yang tidak khas, tetapi berpotensi besar menularkan virus.

Oleh karena itu, mereka telah mengungkapkan dengan jujur hal tersebut, sudah selayaknya dikatagorikan Pahlawan dan diberikan apresiasi sosial yang tinggi, karena melindungi lingkungan sekitarnya dari penularan. Demikian juga sebaliknya, jika penuh kebohongan dalam menceritakan riwayatnya pada petugas, yang diberikan kewenangan melakukan pelacakan.

Pemeriksaan yang dilakukan, memberikan pengaruh pada hasil dari upaya mitigasi. Metode pemeriksaan, metode pengambilan bahan (sample) pemeriksaan, media transport yang dipergunakan, pengepakan, kecepatan pengiriman dan kecepatan untuk memperoleh hasil, merupakan faktor yang menentukan keberhasilan mitigasi. Pemeriksaan terbaik adalah menemukan virus dan standar yang dipergunakan saat ini adalah pemeriksaan real-time reverse transcription-PCR.

Kendala yang dihadapi untuk pemeriksaan RT-PCR real time, antar lain harus dilakukan di luar daerah sehingga hasilnya tidak dapat segera diperoleh. Pemeriksaan yang lain adalah pemeriksaan antibodi IgM dan IgG SARS-CoV-2 dengan rapid test. Pemeriksaan ini sejatinya ditujukan untuk menentukan perode perjalanan penyakit, bukan untuk deteksi dini. Hal ini mengingat, sekitar 3 setelah virus masuk kedalam tubuh sampai timbulnya gejala penyakit, antibodi ini belum terbentuk dan hasil pemeriksaannya non reaktif, tetapi sudah berpotensi menular (infeksius).

--page

Kendala tersebut, oleh Gugus Tugas Covid-19 Kab. Kotim diatasi dengan melakukan karantina terlebih dulu pada mereka yang patut diduga terpapar (OTG,ODP dan PDP) sambil menunggu waktu pemeriksaan rapid test dan hasil pemeriksaan RT-PCR real time. Diharapkan ada langkah terobosan untuk mempercepat hasil pemeriksaan RT-PCR real time sehingga deteksi dini dapat dilakukan dan efektifitas mitigasi dapat diwujudkan.

Langkah terakhir dari sebuah proses mitigasi adalah isolasi mereka yang berpeluang sebagai sumber penularan. Kepatuhan dan kedisiplinan dalam menjalankan isolasi, khususnya pada mereka yang tidak bergejala atau bergejala ringan, sangat menentukan keberhasilan dari proses mitigasi. Mereka yang patuh dan disiplin melakukan isolasi diri, sepatutnya mendapat dukungan sosial dari masyarakat di lingkungannya, bukan malah dikucilkan. Bentuk dukungan sosial tersebut dapat berupa: tetap menjalin komunikasi melalui media online, membantu kecukupan kebutuhan sehari-hari dengan tetap memperhatikan protokol pencegahan, membantu disinfeksi secara periodik peralatan di beranda rumahnya, dll.

Penulis: Dr. Yuendri Irawanto, MKes/Praktisi bidang kesehatan tinggal di Sampit