PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Kanwil Kemenag Kalimantan Tengah (Kalteng) H Masrawan mengatakan, mudik saat ramadan dan lebaran memang menjadi tradisi masyarakat untuk menyambung silaturahmi dengan orang tua dan sanak keluarga. Namun mudik dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini, cenderung memberikan mudarat yang lebih besar dibandingkan manfaatnya.

"Potensi penyebaran Covid-19 harus kita antisipasi. Mudik bisa menjadi salah satu faktor. Sehingga, mudik saat pandemi dinilai lebih banyak mudaratnya. Sebab, mudik bisa menjadi sarana tersebarnya Covid-19 ke kampung. Kalau kita sayang keluarga di rumah, sayang sama orang tua dan saudara di kampung, tahun ini jangan mudik. Silaturahim bisa kita jalin dengan cara lain, misalnya melalui sambungan telepon atau lainnya," katanya, Rabu, 29 April 2020.

Kemudian ia juga mengakui bahwa mudik sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Indonesia. Namun, meski mungkin dirasa berat, kebijakan pemerintah memberlakukan larangan mudik tersebut diambil demi kebaikan masyarakat, di tengah kondisi pandemi Covid-19. Kebijakan itu diterapkan demi menjaga kesehatan bersama.

"Memang masyarakat kita, termasuk saya dan keluarga, dalam kondisi normal, kalau pertengahan ramadhan biasanya sudah bersiap untuk pulang kampung. Enak rasanya puasa bersama keluarga dikampung, bersama saudara-saudara semua, apalagi menjelang Idul Fitri, Tapi, kita tahu bersama bahwa situasi sekarang tidak memungkinkan. Dan pemerintah telah mengeluarkan larangan mudik," jelasnya.

Sedangkan untuk larangan mudik tersebut ia berharap tidak mengganggu kekhidmatan dalam menjalani ibadah di rumah selama bulan ramadan.

--page

"Mudah-mudahan ini tidak mengurangi kegairahan dan semangat ibadah di bulan ramadan. Mari semarakkan ramadan, dengan beribadah di rumah saja," tutupnya. (NOPRI/B-7)