BORNEONEWS, Palangka Raya - Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik, Anto Prabowo mengatakan bahwa Otoritas Jasa Keuangan atau OJK terus mencermati stabilitas sektor jasa keuangan di tengah pandemi Covid-19.
"Kita terus cermati perkembangan stabilitasnya dan hingga akhir April 2020 ini tercatat masih dalam kondisi terjaga," kata Anto kepada Borneonews pada Kamis, 30 April.
Hal tersebut ditunjukkan dengan intermediasi sektor jasa keuangan yang membukukan kinerja positif dan profil risiko industri jasa keuangan tetap terkendali.
"Data perekonomian menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 telah menyebabkan tekanan yang signifikan terhadap perekonomian global," tuturnya.
IMF pada World Economic Outlook April 2020 memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia akan terkontraksi sebesar 3 persen dengan pertumbuhan emerging markets diproyeksikan juga terkontraksi sebesar 1 persen.
--page
"Melalui sejumlah kebijakan antisipatif, pre-emptive, dan asesmen forward looking yang tercermin dari stimulus sektor keuangan, fiskal dan moneter, Indonesia mampu mengendalikan volatilitas di pasar keuangan yang sempat naik tajam seiring peningkatan penyebaran Covid-19," tuturnya.
Tumbuh positif
Anto Prabowo menambahkan, dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2020, Indonesia menjadi salah satu dari sedikit negara yang diproyeksikan ekonominya tetap tumbuh positif di tahun 2020 dibanding negara lain.
"Pada bulan April 2020, pasar saham melemah tipis sebesar 0,9% mtd menjadi 4.496, sedangkan pasar SBN mengalami penguatan dengan yield rata-rata turun sebesar 19,4 bps mtd," kata Anto kepada Borneonews pada Kamis, 30 April 2020.
Sampai dengan 24 April 2020, lanjutnya, investor nonresiden mencatatkan net sell sebesar Rp11,8 triliun mtd atau pasar saham sebedar Rp7,2 triliun, pasar SBN sebesar Rp4,6 triliun.
"Artinya pasar saham kita jauh lebih rendah dari net sell bulan Maret yang tercatat sebesar Rp126,8 triliun," terangnya. (TESTI PRISCILLA/B-11)








