BORNEONEWS, Sampit - Ketua Komisi IV DPRD Kotawaringin Timur Dadang H Syamsu menyebutkan kinerja dari Dinas Sosial Kotim patut dievaluasi.
Alasan Dadang karena sejauh ini Dinsos dianggap tutup mata dan cuci tangan atas berbagai tugas dan tanggung jawabnya selama ini.
“Jujur saya akui Dinsos sangat mengecewakan, terkait amburadulnya data penerima bantuan,” kata Dadang, Jumat, 15 Mei 2020.
Politisi PAN Kotim ini menyebut seharusnya pemerintah kabupaten melalui Dinsos itu wajib memberikan penjelasan kepada masyarakat.
Lebih-lebih lagi kepada pengurus RT/RW sebab mereka sudah melaksanakan pendataan sesuai dengan permintaan dari pemerintah.
--page
"Untuk itu pemkab melalui dinsos wajib bertanggung jawab untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat," tegasnya.
Persoalannya kata dia sampai saat ini tidak ada kejelasan atas data yg telah diserahkan itu dikemanakan dan warga yang didata menunggunya.
"Dinsos juga kita lihat pernahkah berbicara di media untuk itu, cenderung pasif di tengah publik menunggu pernyataan dari Dinsos itu sendiri. Akibatnya masyarakat resah," tegas Dadang.
Maka dari itu, dia mendesak kepada Bupati Kotim, Supian Hadi untuk mengevaluasi kinerja jajaran Dinsos Kotim. Tidak selayaknya lamban dan tertutupnya dinas yang saat ini diperlukan kinerja yang cepat dan tanggap.
“Bupati kami minta evaluasi itu kepala dinasnya, tugas dinsos itu berat jadi tidak bisa kita toleransi dan main-main dengan pejabat yang memegang pimpinan di situ, parahnya lagi kalau diundang DPRD rapat kepala dinasnya tidak pernah datang. Kalaupun datang ketika pembahasan anggaran saja," tandas Dadang.
--page
Bahkan, kata dia setiap pertemuan dengan warga yang dibahas mengenai bantuan sosial. Masyarakat sudah menyerahkan KTP yang didata oleh RT. Namun sampai sekarang tidak jelas kemana arah dari pendataan itu. Sebab, data itu merupakan permintaan dari pemerintah kabupaten.
Di lain sisi, kata Dadang, akibat lemahnya kinerja dari SOPD teknis ini. Maka sekarang di masyarakat tengah terjadi konflik akibat kecemburuan sosial.
Disinyalir data yang dipakai Dinsos tidak jelas. Karena penerimanya ada yang sudah meninggal dunia hingga orang mampu. Akibatnya RT jadi sasaran serangan warga. (NACO/B-5)








