BORNEONEWS, Kuala Kurun- Sangat miris kisah seorang pria di Kabupaten Gunung yang tetap merasa bersyukur, meski harus tetap tinggal di rumah tidak layak huni yang dibangunnya sendiri dari atap bekas.
Selain itu pria yang akrab disapa Bapak Nuel ini juga mengaku merasa bahagia bisa hidup bersama anak semata wayangnya di rumah beralamatkan di Jalan Ais Nasution, meski ditinggal istri untuk selamanya.
Padahal kondisi tempat tinggal keluarga kecil ini sangat memprihatinkan. Sebab, kenyataannya rumah yang dibangunnya dari atap bekas atau seng itu hanya berukuran sekitar 4 meter × 5 meter, berlantaikan kayu dan pintu dari tirai kain serta tidak terpasang listrik.
Tidak hanya itu, kehidupan pria yang sudah tinggal di Kabupaten Gunung Mas selama tujuh tahun ini juga luput dari perhatian masyarakat. Sebab lokasi tempat tinggalnya tidak banyak yang mengetahuinya sehingga sangat jarang untuk mendapatkan bantuan apapun.
Kondisi ini pun membuat Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia Kabupaten Gunung Mas, Indrajid Wade Pertama tidak tega melihat kondisi tempat tinggal bapak satu anak ini.
--page
Hati pria yang akrab di sapa Wade ini pun tergugah. Dia berniat menyerahkan bantuan kebutuhan pokok kepada pria yang seharinya bekerja sebagai tukang servis keliling itu.
"Kehidupan Pak Nuel ini sangat memprihatinkan, dan sangat membutuhkan uluran tangan dari seluruh pihak. Saya bangga dengan beliau tetap bisa bersyukur, meski jalani hidup di rumah tidak layak huni ini," katanya usai menyerahkan sembako, Sabtu, 16 Mei 2020.
Dia menuturkan, bantuan tersebut berasal dari kas KNPI Gunung Mas yang dikumpulkan pihaknya, khusus untuk membantu masyarakat yang membutuhkan ditengah pandemi Covid-19.
"Ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat kurang mampu yang benar-benar membutuhkan uluran tangan. Saya berharap pihak lain ada kepedulian dan tergerak hatinya untuk membantu keluarga ini agar bisa merasakan hidup selayaknya orang lain," imbuhnya. (HENDRA/m)








