SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Anggota Komisi II DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Syahbana  mengungkapkan harga  jual karet ditingkat petani tidak sebanding dengan harga kebutuhan pokok saat ini.

Syahbana menyebutkan selama 10 tahun terakhir ini pemerintah dianggap tidak berdaya untuk membantu petani menaikan harga. 

“Bisa dikatakan tidak ada peran pemerintah untuk memerikan jaminan harga kepada para petani ini. Jadi artinya  petani kita ini hidup dalam kondisi memprihatinkan," kata Syahbana, Minggu, 24 Mei 2020.

Menurut Syahbana harga per kilogramnya saat ini diangka Rp 4.000 dari sebelumnya yang mencapai harga Rp 7.500 per kilogram.

“Beberapa waktu lalu saya kunjungan di daerah Kecamatan Seranau bertemu dengan petani karet, di mana harga karet saat ini turun sampai berada di angka Rp 4.000, ini sangat miris kita dengar," tukas Syahbana.

--page

Apalagi in musim virus Covid-19 yang mana dampaknya semua tahu sangat besar bagi ekonomi masyarakat secara luas.

Menurutnya dengan harga demikian sangat tidak sebanding dengan harga sembako yang terus mengalami kenaikan.

Syahbana mendorong agar pemerintah kabupaten berupaya untuk mencari solusi itu. Apalagi presiden sudah menyatakan akan menyerap hasil dari kebun masyarakat guna memperbaiki harga. 

Karet merupakan salah satu komoditas unggulan dari masa ke masa di Kotim. Karet ini dijual kepada para pengepul. 

Para pengepul ini kemudian menjaual kepada pabrik penampung untuk pengolahan. Sayangnya harga ditingkat petani sangat jatuh. 

Syahbana menegaskan jika dalam  penentuan harga ini ada monopoli harga maka pemerintah juga harus bersikap tegas.

--page

“Silakan pemerintah melakukan intervensi pasar, supaya tidak bisa main-main lagi dengan harga ditingkat petani. Jangan sampai kita membiarkan ini," tandasnya. (NACO/B-5)