BORNEONEWS, Tamiang Layang - Saat usaha lain sepi atau bahkan tidak berjalan sama sekali akibat pandemi Covid-19, Datu (37) justru kebanjiran order umpan pancing tiruan atau lure.
Warga Desa Jaar RT 03, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur ini mengungkapkan, permintaan lure dari getah karet atau lateks produksinya mengalami peningkatan sekitar 65 persen dibanding saat belum adanya wabah Covid-19.
"Banyak pelanggan baru dari luar daerah Kalimantan, ada dari Jakarta, Riau dan juga dari Kalimantan Timur," ungkapnya, Rabu 27 Mei 2020.
Menurutnya, pesanan yang baru masuk karena orang melihat postingan dan testimoni pelanggannya di media sosial.
Dia menduga peningkatan permintaan ini akibat distancing social dan anjuran pemerintah untuk bekerja dari rumah sehingga banyak orang yang memanfaatkan kesempatan itu untuk menyalurkan hobi memancing atau sekedar refreshing.
--page
"Mungkin karena larangan berada di keramaian atau bekerja, jadi orang-orang menghilangkan kejenuhan dengan pergi memancing," paparnya.
Meski terjadi peningkatan permintaan, Datu tidak serta-merta memproduksi lure sebanyak-banyaknya karena untuk mendapatkan bahan baku yang banyak saat pandemi Covid-19 tidaklah muda.
"Penerapan PSBB di berbagai kota membuat pemesanan bahan baku lateks agak terhambat karena bahan baku saya pesan dari pulau Jawa," imbuh pria yang menjadi tenaga honorer di Dinas Perikanan Kabupaten Barito Timur.
Datu memproduksi lure berbentuk katak atau bentuk lainnya dari lateks yang diwarnai dengan pewarna buatan khusus.
Usaha ini dijalankan untuk menambah penghasilannya sebagai tenaga honorer yang menghidupi istri dan dua anak yang masih kecil.
Wirausaha mikro yang menggunakan merek Lalak Lali Lure (3L) tersebut menjual lure buatannya dengan harga Rp 25.000 - Rp 30.000.
Lure berbentuk katak dengan ukuran panjang 3,5 - 4 sentimeter itu biasanya digunakan untuk memancing ikan jenis snakehead atau kepala ular seperti ikan gabus dan lainnya. (BOLE MALO/B-6)








