Yang terhormat Editor Borneo News,
Perkenalkan, nama saya Rika Natalia. Saya adalah seorang perawat yang ikut menangani pandemi Corona di instansi kesehatan daerah saya. Sebagai sesama tenaga medis yang berjuang dalam masa pandemi COVID-19 ini, saya ingin menyampaikan kekecewaan saya terhadap artikel yang dikeluarkan oleh Tempo dengan judul “OPM Membantah Tembak 2 Tenaga
Medis di Intan Jaya” pada 23 Mei 2020. Artikel tersebut memuat pernyataan kelompok separatis bersenjata OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang tidak mengakui telah menembak 2 tenaga medis di Wandai, Papua (22 Mei 2020).
Mengapa media Borneo News hanya memuat pernyataan dari pelaku? Padahal beberapa media lain telah meliput kesaksian salah satu korban selamat yang mengkonfirmasi bahwa memang mereka diserang oleh OPM dalam misi mereka mengantarkan obat-obatan.
Bukankah akan lebih bijak apabila media melakukan konfirmasi kepada rekan kami, tenaga medis yang selamat, sebelum memuat pernyataan dari pelaku penembakan tersebut? Sudah sewajarnya apabila pelaku, seperti kelompok bersenjata OPM ini, tidak mengakui kejahatan yang mereka lakukan. Jika begini, dapatkah media besar seperti Anda mempertanggungjawabkan keberimbangan dan keakuratan data Anda?
Jujur saja, saya merasa kecewa, sedih, dan marah saat membaca artikel di media Anda tersebut. Kami, tenaga medis yang selama ini telah berjuang mati-matian melawan Corona, dianggap tidak lebih berarti dari kelompok separatis yang suka membunuh warga. Apakah hilangnya nyawa kami ini hanya seperti “efek samping” dari pandemi, dari teror separatis?
Seperti yang sebelumnya telah beredar di media dalam negeri, 2 tenaga medis anggota Gugus Tugas COVID-19 Dinas Kesehatan Intan Jaya ini bernama Heniko Somou dan Almelek Bagau.
“Pada hari Jumat tanggal 22 Mei 2020 sekitar jam 08.00 WIT (saat itu sedang hari pasar) saya bersama almarhum Heniko Somou sedang berada di rumah saya, tidak lama kemudian datang sekitar 15 orang yang mengaku mereka adalah Organisasi Papua Merdeka.” Pernyataan Almelek Bagau tersebut dikutip dari artikel Beritasatu.com berjudul “Ini Kesaksian Petugas Covid-19 di Papua saat Ditembaki oleh KKB” saat ditemui di RSUD Nabire, Papua. Dalam kesaksiannya,
Almelek mengatakan kelompok yang mengaku OPM itu datang ke rumahnya setelah melihat Almelek dan Heniko membawa radio HT (handy-talky).
OPM menuduh kedua tim medis sebagai mata-mata aparat karena HT tersebut. Padahal HT tersebut diberikan oleh Dinas Kesehatan agar Heniko dan Almelek bisa berkomunikasi dan berkoordinasi dengan petugas kesehatan di posko Gugus Tugas COVID-19. Dalam penyergapan OPM, Almelek melihat sendiri anggota OPM menembak rekannya, Heniko Somou, hingga meregang nyawa. Mereka juga menganiaya Almelek dengan menembak kaki dan telapak tangannya.
Saya sungguh menyayangkan keputusan media untuk mengunggah berita dari pihak OPM tanpa memberikan konfirmasi dan klarifikasi dari pihak lain yang bersangkutan, sehingga berita tersebut menjadi tidak berimbang. Jika media memuat pernyataan dari separatis, mengapa tidak sekaligus memasukkan pernyataan korban? Apakah pernyataan separatis sebagai pelaku kejahatan ini memiliki bobot yang lebih berat dibandingkan pernyataan dan kesaksian korban yang jelas-jelas ditembak dan dianiaya kelompok separatis OPM?
Saya harap media Anda bisa mempertanggungjawabkan informasi yang Anda berikan kepada kami, tenaga medis dan publik. Saya mohon media Anda bisa memperbarui artikel yang bersangkutan dengan informasi yang berimbang dari kesaksian tenaga medis Almelek Bagau. Sebagai sesama tenaga medis, saya hanya ingin agar nyawa rekan-rekan saya tidak hilang dengan sia-sia. Dan apabila hilang, diberi penghormatan yang sebaik-baiknya.
Salam hormat,
Rika Natalia
Catatan Redaksi:
Terima kasih atas koreksi dari Anda. Sesuai harapan Anda, kami telah memperbarui berita tersebut dengan menambahkan keterangan dari kesaksian tenaga medis.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian ini.








