BORNEONEWS, Tamiang Layang - Tidak banyak orang yang tahu ada seorang gadis piatu asal Kabupaten Barito Timur yang menjadi relawan Covid-19 di Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih Jakarta Pusat.
Dia adalah Dewi S Kurnia. Lahir di Desa Jaweten Kecamatan Dusun Timur dari keluarga petani karet yang hidup sederhana. Anak kedua dari dari dua bersaudara ini sudah terbiasa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup dan bersekolah.
Kerja keras, semangat yang besar, serta dukungan dari kakak dan ibunyalah yang mengantar gadis dengan sapaan Ria ini dapat meraih profesi Ners di Universitas Esa Unggul Jakarta Barat tahun 2018 hingga menjadi relawan Covid-19.
"Ibu saya banting tulang untuk menyekolahkan saya dan kakak saya. Jika anak-anak orang lain saat libur kuliah pulang kampung bisa bersantai-santai, saya harus bekerja keras membantu ibu untuk mengumpulkan biaya," kisah Ria mengenang masa kuliahnya di STIKES Cahaya Bangsa Banjarmasin untuk mendapatkan S1 Keperawatan.
Menurutnya, sekalipun harga karet anjlok, dia tetap menyadap karena hanya itu sumber untuk biaya hidup dan kuliahnya. Bahkan sekalipun dia baru tiba dari Banjarmasin tengah malam, pagi-pagi sekali Ria tetap ke kebun untuk menyadap karet.
--page
"Hanya kalau hujan saja saya tidak mantat (menyadap)," kata Ria via sambungan telepon, Jumat 29 Mei 2020.
Saking sulitnya keadaan mereka, kadang ibunya meminjam uang di bank atau koperasi atau dibantu kakaknya untuk mencukupi biaya pendidikan Ria.
Bagi petani karet seperti keluarganya, kuliah di jurusan kesehatan itu sangat mahal. Untungnya, Ria tidak patah semangat untuk menggapai cita-citanya, termasuk saat melanjutkan pendidikan profesi Ners.
"Saya cuma modal pendaftaran online dan GPS saat merantau ke Jakarta untuk kuliah Ners," imbuhnya.
Beratnya perjuangan Ria belum berakhir di situ. Dua tahun lalu, ketika tinggal beberapa bulan lagi dia akan diwisuda, ibunya meninggal dunia sehingga membuat dia serta kakak perempuan satu-satunya yang sejak kecil ditinggal bapak karena orang tuanya berpisah.
--page
"Saya sangat terpukul, ibu tidak sempat melihat saya diwisuda," katanya dengan nada sedih.
Gadis yang nekat merantau sendirian ke Jakarta untuk mengambil profesi Ners ini beruntung. Usai diwisuda, dirinya langsung diterima bekerja RSIA Grand Family Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara
Perjuangan hidup yang begitu berat dilalui sejak kecil membentuk kepekaan sosial yang tinggi dalam diri Ria, itu sebabnya saat Rumah Sakit Pertamina Jaya Jakarta Pusat membuka lowongan bagi relawan Covid-19 , Ria mengambil kesempatan tersebut sejak akhir Maret 2020.
Saat ini Ria di tugaskan di bagian ICU (Intensif care unit) RS Pertamina Jaya yang mengharuskan dia melakukan pengawasan khusus kepada setiap pasien yang dirawat.
Tugas ini sangat beresiko, karena Ria rentan terinfeksi Covid-19 dari pasien yang dirawat meskipun sudah memakai Alat Pelindung Diri atau APD lengkap.
"Selama menjadi relawan, kami harus dikarantina di hotel berbulan-bulan, tidak bisa bertemu keluarga atau teman. Panas, pengap, sesak bahkan wajah luka-luka karena bekas APD," kata dia.
Meski nyawanya sendiri jadi taruhan, namun Ria merasa begitu sedih ketika pasien yang sudah lama dirawatnya secara intensif akhirnya meninggal dunia karena Covid-19.
"Saya menerima tugas ini karena saya ingin menolong sesama dan ikut serta mendukung pemerintah dalam upaya melawan virus corona ini," pungkas Ria. (BOLE MALO/B-11)








