BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Guna pemetaan epidermologis, rapid test atau tes cepat covid-19 digunakan untuk melakukan deteksi awal apakah seseorang terjangkit atau tidak dari penyakit yang disebabkan oleh virus corona.
Walau demikian banyak pihak yang masih meragukan tingkat ketepatan hasil rapid test yang kadang berbeda dengna hasil pemeriksaan swab.
Wakil Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Kalteng yang juga menjabat sebagai Kepala Dinkes Kalteng dr. Suyuti Syamsul, Senin, 8 Juni 2020 menjelaskan kenapa hal tersebut bisa terjadi.
"Ada 2 permasalahan yang biasanya ditemukan terkait perbedaan hasil rapid test dan swab test. Masalah pertama biasanya disebut false positif," jelas Suyuti Syamsul.
Menurut Suyuti Syamsul, false positif ini ditunjukkan dengan reaktifnya hasil rapid test.
"Alat rapid test menunjukkan indikasi reaktif, karena orang itu pernah terinfeksi virus corona jenis lain yang lebih jinak. Sehingga rapid test tetap mendeteksi bahwa orang itu reaktif virus vorona," jelas Suyuti Syamsul.
--page
Kemudian, menurut Suyuti Syamsul, masalah kedua adalah false negatif.
"Rapid test menunjukkan hasil non reaktif. Hal ini bisa terjadi karena belum terbentuk antibodi pada tubuh orang itu.
Biasanya pada 7 hari pertama seseorang terinfeksi virus, sensitivitas maksimal rapid test sebanyak 35 %. Sehingga peluang terjadinya false negatif, sebanyak 70 % di minggu pertama," jelas Suyuti Syamsul.
Namun, lanjut Suyuti Syamsul, bila pada tubuh manusia yang terinfeksi virus dan sudah terbentuk antibodi, tingkat ketepatannya mencapai 95 %.
"Tingkat ketepatan tersebut selama ralid test tidak dipengaruhi adanya false positive infeksi virus lain dari corona yang tidak seganas covid-19. Karena terdapat berbagai species virus corona yang jumlahnya mencapai ratusan jenis," jelas Suyuti Syamsul.
--page
Menurut Suyuti Syamsul, rapid test digunakan sebagai deteksi dini untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi virus corona atau tidak.
"Namun, untuk mengetahui dengan persis apakah seseorang terinfeksi covid-19 atau tidak, diagnosa utama atau golden diagnostic adalah pemeriksaan swab menggunakan Polymerase chain reaction (PCR)," jelas Suyuti Syamsul. (WAHYU KRIDA/B-5)








